Finger Talks More

Let your imagination take you up and your finger tell the story of it
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 DIFFERENT!

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
maka ichiryuu

avatar

Jumlah posting : 20
Join date : 20.05.11
Age : 22
Lokasi : TANGERANG

PostSubyek: DIFFERENT!   Mon Jun 20, 2011 12:56 pm

Chapter one::


Kukuk-kukuk burung menyapanya yang asyik bergulung-gulung dalam selimut. Rupanya seorang gadis. Rambut biru lautnya tergeletak mencuat pada sisi-sisi selimut. Membuatnya nampak seperti ulat bulu. Gadis itu tak bergeming, namun gedoran beruntun dari arah pintu cukup untuk mengagetkan serta menjatuhkannya dari tempat tidur.

“Vivi! Vivi! Kau ke sekolah tidak? Jangan tidur terus! Ayo banguuuun~” Seorang bibi pengurus berbadan gempal menyembul dari balik pintu. Rambut kuningnya melengkung-lengkung layaknya gadis-gadis bangsawan Victoria dahulu. Gadis yang terpanggil, Vivi sebutannya, berusaha duduk di balik gulungan selimut bulunya. Bibi pengurus terlonjak sedikit. Mengernyit melihat nonanya seperti bolu lapis.

“Vivi! Apa-apaan itu penampilanmu. Ayo bersikat lalu ganti baju.” ucap bibi itu sembari menarik Vivi keluar dari selimut. Vivi masih nampak lemas. Wajahnya kuyu kelelahan.

“Nggg…” erang Vivi. Gadis itu mendekati wastafel dengan lunglai. Sejenak menunggu, suara air mengguyur dan kumuran singkat mengawali. Lalu dia keluar dengan gerak diburu –yang sudah memakai seragam High school tentu saja- tengah kerepotan mengikat rambut ikal panjangnya dengan pita satin putih.

“Aku telat! Belum sarapan lagi. kaos kakiku mana ya? Perasaan ditaruh disini kemarin. Oh ya, hari ini ada ulangan! Duh.. Duh… Egh, sakit!” Vivi meringis pelan karena kepalanya-walaupun dia lebih tinggi dari bibi pengurus- dijitak oleh bibi pengurusnya. Menatap tajam pada mudi berisik itu.

“Dasar kau ini. Tasmu dan segala macam sudah masuk dalam keranjang sepeda. Kau tinggal berangkat saja.”

“Kaos kakiku?”

“Sudah siap di teras. Sudah, ayo berangkat. Lama-lama kau ini berisik terus disini.” Ucap bibi pengurus mendorong Vivi keluar kamar. Ayah Vivi, laki-laki paruh baya berjenggot lebat berambut hitam ikal –ikal sama seperti anaknya- melangkah bersama-sama ke arah teras. Vivi berseri sementara ayahnya ikut tersenyum kecut, bibi pengurus menatap manik matanya seolah meminta untuk tidak membuang waktu putrinya yang notabene telat bangun.

“Mau berangkat sekolah?” sapa ayah Vivi. Langkahnya beliau pelankan sedikit. Namanya orang sibuk, susah untuk berbincang-bincang bersama keluarga.

“Iya. Aku pergi dulu ya, yah.” Vivi tersenyum sedetik. Lebih parah dari ayahnya, dia malah memberhentikan ayunan kakinya itu. Tak lama, bibinya makin mendorong-dorong nona dan tuan besarnya yang sama-sama malas gerak. Sentris. Like father like daughter. Pikirnya. Nonanya sendiri mulai bergerak cepat tatkala melihat jam dinding di ruang tamu. Begitu pula ayahnya yang sudah melesat pergi. Hilang bersama angin.
Vivi sendiri sibuk mengikat tali sepatunya, menaruh tas jinjing sekolahnya di keranjang sepeda, sampai melupakan sarapan yang sudah disiapkan bibi pengurus. Vivi sudah diburu waktu, membuatnya tak mendengar teriakan bibi.




Jalanan sudah penuh, lebih tepatnya memang selalu penuh. Vivi mengayuh sepedanya secepat mungkin yang ia bisa ketika melewati sekelompok orang di pertokoan. Beberapa hendak menyumpah kasar, tetapi ketika melihat rupa si pengemudi, mereka langsung menggeleng pasrah. Vivi sendiri tidak menutup-nutupi perbuatannya itu. Meneriakkan kata maaf sambil berlalu.

“Maaf ya, paman, bibi! Nanti Vivi beli sayuran-nya satu truk! Hehehe.” Ucap Vivi seraya melambaikan tangannya. Lalu memfokuskan diri pada jalanan yang sama. Diliriknya toko jam di sebelahnya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima menit! Hadoh, demi apapun, dia bakalan telat kalau ngga mengayuh sepedanya dengan kecepatan 80 km/jam! ^^

Bagai mendapat kekuatan penuh, Vivi langsung memposisikan dirinya lebih menunduk dekat pada setang. Hal itu bisa menambahkan kecepatan sepedanya sedikit. Hal itu manjur. Angin melewatinya tanpa penghalang apapun, membuat laju sepedanya makin mulus. Vivi terus mengayuh sepedanya dengan kecepatan yang menggila. Kakinya seakan tak ada, hanya putaran-putaran cepat di atas pedal. Rambutnya yang sudah diikat rapi, kini bergelombang kemana-mana. Berantakan maksudnya~ Bahkan, pin boneka Karu yang disematkan di tasnya pun, berubah ekspresi menjadi ketakutan, bukan senyam-senyum seperti seharusnya.^^ Vivi membuat manuver yang tajam saat melewati belokan pertigaan. Dan, berakhir jatuh…

Sebelumnya...

Kringg, kringg! Vivi masih tahu adat, dia membunyikan bel-nya untuk menandakan ada dia disana. Tapi apa mau dikata, ternyata hal itu tak didengar oleh orang yang ada dibaliknya, mengingat earphone tercantel di telinganya.

BRAKK!!! (tabrakan)

SERRR SERRRR (bunyi roda sepeda masih berputar)

UHUK UHUK (mereka batuk)

“Hei, kau! Sudah tahu ada belokan, jangan cepat-cepat begitu dong!” ujar sang ‘korban’ penabrakan Vivi.
“Maaf saja ya, tapi saya itu sudah memberi peringatan lewat bel! Anda yang santai-santai mengemudi sambil dengar musik!” balas Vivi.
“Eghhh…” erang pemuda? Yang memakai baju seragam sama seperti Vivi itu. Dasinya berwarna Biru, berarti satu tingkat diatas Vivi. Tingkat tengah. Sedangkan Vivi baru tingkat awal. Dalam AHS, memang diberlakukan sistem pembedaan tingkat lewat warna dasi. Merah crimson untuk tingkat awal. Biru langit untuk tingkat tengah dan coklat khaki untuk tingkat akhir.
Vivi mendekat ke arah pemuda itu, yang masih menunduk. Namun pemuda itu tak sadar kalau dia didekati, mendongakkan kepalanya.

Duak!



Berlanjut ke chapter dua...
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://ciqopunya.blogspot.com
 
DIFFERENT!
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Finger Talks More :: Creative Writing :: Romance-
Navigasi: