Finger Talks More

Let your imagination take you up and your finger tell the story of it
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Regret... and Sorrow

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Faye de Minmy
Admin
avatar

Jumlah posting : 14
Join date : 07.05.11
Age : 22
Lokasi : Selama ada makanan dan udara,di situ saya tinggal

PostSubyek: Regret... and Sorrow   Mon Jun 06, 2011 1:06 pm

Dalam keheningan aku hanya bisa berkata, "jangan pergi."
Dalam kegalauan aku hanya bisa mendesah, "aku membutuhkanmu."
Dan dalam kungkungan rasa sesal, aku hanya bisa mendesis penuh harap, "kenapa kau harus pergi? Tetaplah di sini, meski kamu tidak di sampingku."

***

Aku mengelap keringat yang keluar sejak tadi. Kulihat di sekelilingku teman-teman sekelasku sibuk berkutat dengan soal-soal di hadapannya. Pagi itu dingin, tapi entah kenapa, aku terus-terusan berkeringat. Apa ini karena soal Fisika berjumlah 40 soal di hadapanku ini? Hmmm...

"Anak-anak, ingat ya! Kalau sudah selesai, kumpulkan jawabannya di depan kelas!" Ujar guru pengawas kami hari itu, yang kemudian dijawab dengan lesu oleh anak-anak sekelas.

Kulirik lembar jawabanku. Dari seluruh soal Fisika yang berjumlah 40 soal plus 5 soal essay itu, aku baru menjawab 10 soal pilihan ganda dan 1 soal essay, itupun baru setengahnya. Aku benci betul Fisika.

Kenapa sih jumlah putaran roda sebuah sepeda harus dihitung gayanya?

Lalu, apakah seorang polisi harus memperkirakan setiap tembakannya dengan ketinggian maksimum-minimum bila hendak menembak penjahatnya? Penjahatnya bisa kabur duluan 'kan?

Kemudian, kenapa pula kecepatan putaran penari balet harus dihitung? Dimana-mana kalau melihat pertunjukan balet itu yang dilihat itu tariannya! Seninya! Mana ada yang menonton pertunjukan balet itu cuma mau menghitung kecepatan putaran penarinya!

Fisika memang benar-benar ilmu yang paling-sok-perhatian sedunia!

"Ehem, Ilana. Kalau kamu sudah selesai, silakan, kumpulkan jawabannya ke depan, jangan malah tidur-tiduran di sini. Di sini 'kan ruang ujian."
Suara guru pengawas menyadarkanku dari khayalanku tentang Fisika.

"E...e... i... iya Pak! Maaf!" Ucapku terbata, kemudian langsung pura-pura konsentrasi pada soal-soal di depanku. Dalam hati, aku memaki soal-soal Fisika di depanku ini. Menyebalkan!

"Apa di sini kelas XI IPA 6?"Seorang pegawai Tata Usaha yang kukenal masuk ke ruang ujian. Matanya mengaduk-aduk seisi kelas, mencari sesuatu. "Ah, kamu!" Ia berjalan ke belakang kelas. Sosoknya yang berjalan diikuti oleh tatapan mata penasaran seisi kelas. Soal-soal Fisika tadi tampaknya langsung terlupakan. Pegawai itu berjalan mendekati Ardi, teman sekelasku, sekaligus sahabatku sejak SD dan terlihat membisikkan sesuatu padanya. Ardi beberapa kali menganggukkan kepalanya.

Pandanganku tak lepas dari Ardi. Jantungku berdegup keras. Kenapa? Apa ada yang akan terjadi? Aku menduga-duga. Aku menutup kedua mataku dan kembali membenarkan posisi dudukku, membenamkan kepalaku di antara kedua tanganku yang kurus. Ya Tuhan, mungkinkah...

"Ilana! Kumpulkan saja jawabanmu kalau kamu sudah selesai, baru kamu boleh tidur!"

Ya ampun...

***

Anak-anak sekelas berkumpul di sekitar meja Ardi, ingin tahu apa yang terjadi. Aku tak mau kalah, aku juga menjadi salah satu peserta "konferensi kecil-kecilan" itu.

"Eh, tadi bapak itu bilang apa ke kamu?"Tanya Bryan, temanku yang paling hitam.

"Yah, dia bilang minggu depan, aku harus ke Jakarta. Wawancara VISA," jawab Ardi santai. Namun, dari cara bicaranya, aku yakin ia seperti enggan melakukannya. Seperti tak ingin meninggalkan sesuatu.

Ardi akan pergi jauh. Aku tahu itu. Saat kami naik ke kelas XII, dia akan menjadi wakit Indonesia, pergi ke Amerika dalam rangka pertukaran pelajar. Dan kembali ke Amerika saat kami sudah lulus SMA. Menyedihkan. Padahal kami sudah lama bersama-sama.

Jantungku kembali berdegup, namun kali ini lain. Ada sesuatu dan lain hal, yang tak terdefinisi. Sakit, perih, dan memilukan.

"Kami pasti merindukanmu, Di. Iya nggak, Ilana? Kamu kan udah sama-sama dari SD. Pasti kesepian, ya!" Ujar Fiina sambil menyikutku.

"Iyalah!" Aku menjawab sok ceria, mencoba agar terdengar wajar. Tapi, tak bisa kusembunyikan, aku tak ingin dia pergi.

"I'll miss you, Ilan!"Katanya sambil tersenyum.

"Me too!"Kataku, kembali mencoba untuk bersikap wajar.

"Kalau Ilana sih, mustahil kesepian! 'Kan ada Bian! Udah setengah tahun lebih jadian!" Bryan menimpali sambil tertawa renyah, sok asik seperti biasa.

Bian?

"Lhooo, itu beda! Ilana sama Ardi ini udah lama sama-sama. Sudah seperti saudara! Pasti kesepiannya beda!" Fiina membalas perkataan Bryan. Aku hanya bisa tersenyum.

"Ah, rame kalo mau ngapal di sini! Aku mau ngapal keluar aja!" teriakku sambil menyambar buku teks Biologi keluar.

Aku yakin, aku masih mampu mendengar cerita anak-anak tentang kepergian Ardi. Tapi Ardi, aku merasa bahwa aku akan kehilangan sosok sahabatku yang sudah ikut berpartisipasi mengisi hari-hariku sejak kecil. Sulit mengatakannya, tapi aku kan... aku...

menyayangimu...

Aku merenungkan ucapan Bryan tentang Bian, pacarku yang sudah menemaniku setengah tahun lebih.

Kalau Ilana sih, mustahil kesepian! 'Kan ada Bian! Udah setengah tahun lebih jadian!

Bian tidak lebih dari tempat aku bernaung sementara. Tapi, Ardi, dia tempat yang paling kuinginkan. Bian... Bian... Bian...

Lhooo, itu beda! Ilana sama Ardi ini udah lama sama-sama. Sudah seperti saudara! Pasti kesepiannya beda!


Ucapan Fiina membuatku ragu. Benarkah Ardi itu kuanggap saudaraku? Tidak, bukan saudara. Bukan juga sahabat. Apalagi teman. Dia berbeda. Lebih spesial lagi, Fiina.

Kenapa kau harus pergi?

Aku membenamkan kepalaku di depan buku biologi yang sejak tadi kuberdirikan. Aku tak bisa menangis di sini, jelas. Aku tidak mau dianggap seorang anak kecil yang hendak berpisah dengan mainannya. Aku tidak mau seperti itu.

Tidak mau...

Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://fingertalk.chocoforum.com
 
Regret... and Sorrow
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Finger Talks More :: Creative Writing :: Romance-
Navigasi: