Finger Talks More

Let your imagination take you up and your finger tell the story of it
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 5

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
armeychan

avatar

Jumlah posting : 6
Join date : 29.12.11
Age : 26
Lokasi : bandung

PostSubyek: LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 5   Thu Dec 29, 2011 2:05 pm

Episode sebelumnya : Karen yang diajak Reyhan masuk ke semak belukar seperti labirin sebal dan kesal karena baginya tempat seperti itu sangat aneh dan menyebalkan. Saat masuk, Karen yang udah nggak tahan ngikutin Reyhan mencoba kabur tapi setelah ia 'lepas' dari Reyhan yang ada ia malah tersesat dan nggak bisa pulang. Karen menangis dan dalam hatinya ada perasaan menyesal dan untungnya Reyhan berhasil menemukannya. Saat pulang ke rumah neneknya, Reyhan ditegur oleh manajernya-Ibu Lia kalo ia nggak bisa berlama-lama di Bandung karena mereka juga harus sekolah. Teman-teman Reyhan kesal dan membela Reyhan tapi dengan tenang Reyhan sependapat dengan Ibu Lia dan meminta waktu tiga hari. Jika lewat dari itu, ia bersedia pulang ke Jakarta meski Karen nggak bisa ingat apa-apa. Dan sekarang pun udah masuk hari pertama dari yang dijanjikan. Apakah Reyhan sanggup?





“Glek! Kok...kok beda ya dengan taman yang di depan tadi? Gelap banget!!” Batin Karen bergidik ngeri. “Re...Reyhan....ka...ka....kayaknya besok aja deh.” “Lho, kenapa? Kamu takut digigit nyamuk lagi? Tenang, aku bawa spray anti nyamuk.” Ujar Reyhan tersenyum seraya mengeluarkan spray anti nyamuk dari saku jaketnya. “BUKAN ITU, BODOH! LIAT DONG, GELAP DAN MENGERIKAN KAYAK GITU!! GUE NGGAK MAU MASUK!!” Seru Karen seraya melipat tangannya sebal. “Aku yakin kamu pasti baik-baik saja deh.” Kata Reyhan seraya menarik tangan Karen masuk. “Reyhan....disini gelap banget...gue sampai nggak bisa liat apa-apa,nih. Pulang yuk...” Kata Karen memelas ketakutan. “Tenang aja, Karen....Karena aku akan MENAKUTIMU HIHIHIHI...” Kata Reyhan tiba-tiba membalikkan badan dengan senter menyorot ke mukanya. “WAAAAAAAAAA!!!!” Teriak Karen seraya jatuh terduduk ketakutan. “Ka...Karen! Karen!Kamu nggak apa-apa, kan? Karen!” Seru Reyhan panik melihat Karen terduduk menutupi wajahnya. Karen menangis. “Karen...maafin aku, ya...Karen...A..aku cuma bercanda..” Kata Reyhan seraya menyentuh pundak Karen. “Gue benci sama lo! Gue mau pulang! Gue mau pulang!!” Seru Karen masih tidak beranjak dari tempatnya. “Baik, kalau begitu.” Kata Reyhan seraya menggendong Karen. “HE...HEI...APA-APAAN INI?!TURUNIN GUE!!”Seru Karen. “Aku sudah bilang kan? Aku akan bertanggung jawab, aku sudah membuatmu nangis. Aku akan menggendongmu sampai tiba di tujuan.” Ujar Reyhan tegas. “Deg!Deg!” Jantung Karen mulai berdetak lebih keras lagi. “Aduh, Reyhan mau sampai kapan lo gendong gue?? Duh, dada gue serasa mau pecah.” Batin Karen seraya menutup matanya. “Nah, kita sudah sampai.” Kata Reyhan seraya menurunkan Karen. “Yah, setidaknya pasti tempatnya bagus.” Batin Karen sebelum membuka mata. DOEEENG!GUBRAAAAAK! Itulah yang ada di pikiran Karen. Tempat itu lebih mengerikan daripada semak-semak tadi. “TE...TE..TEMPAT APA INI?!” Seru Karen. “Lho? Ini kan gubuk yang dibuat Ayahku untuk kita. Kamu nggak ingat?” Tanya Reyhan bingung. “BUKAN NGGAK INGAT! GUE NGGAK TAU! ELO NGAJAK GUE HANYA UNTUK PERGI KE GUBUK JELEK DAN REYOT ITU? GUE MAU PULANG!!” Seru Karen sebal seraya hendak pergi. “Eh!Jangan pergi. Ayo, kita masuk.” Kata Reyhan seraya mencegah Karen pergi. Dengan terpaksa, Karen mengikuti Reyhan memasuki gubuk itu. Begitu Reyhan menyalakan lampu, ternyata di dalamnya hanya ada lemari kecil. Reyhan membuka lemari itu dan mengeluarkan dua buah topi kertas. “Liat nih Karen. Ini topi yang kita buat. Kamu pasti ingat.” Kata Reyhan seraya menunjukkan topi itu. “Iiiih...jijik banget sih! Udah berdebu disana sini! Nggak nggak nggak, jauhin itu dari gue!” Kata Karen jutek. Reyhan terlihat kecewa tapi ia segera mencari-cari suatu barang. “Ah! Ini dia!” Seru Reyhan senang. “Duh, Reyhan! Udah selesai belum sih? Capek nih gue mau pulang!” Ujar Karen. “Karen!Karen! Liat! Kamu pasti ingat ini.” Kata Reyhan antusias seraya menunjukkan sebuah bola kaca yang di dalamnya terdapat rumah dan butir-butir berwarna putih. “Barang rongsokan apa sih ini? Jelek! Ih, gue udah nggak tahan! Gue mau pulang!!” Seru Karen. “Lho? Ini kan kado dari Mama kamu waktu aku ulang tahun masa kamu lupa?” Ujar Reyhan nggak percaya. “Udah gue bilang berapa kali gue bukan Karen yang....” “Ah! Ini dia! Kalau ini gimana? Ini sapu tangan kesayangan kamu. Kamu selalu bawa-bawa ini. Tapi, aku curi lalu kamu nangis mencari-cari sapu tangan ini tapi nggak ketemu. Nih, aku kembaliin...” Kata Reyhan senang seraya mendekatkan sapu tangan itu ke muka Karen. “Uhuk...uhuk...uhuk...! Uuuh! Dasar bodoh! Bau tau! Uhuk...uhuk...uhuk...” Kata Karen seraya menutup hidungnya. “Wah...wah...ternyata susah banget, ya.” Kata Reyhan seraya geleng-geleng kepala. “Lo itu keras kepala banget sih! Gue harus jelasin berapa kali supaya lo ngerti? Janji cuman sebentar, kan? Ayo kita pulang. Percuma saja mau nunjukkin gue beratus-ratus barang juga tetap saja gue nggak ngerti apa-apa!” Kata Karen jutek. Reyhan terdiam sesaat. “Oh, jadi kalau dengan barang kamu nggak ingat, ya. Baiklah, besok aku akan ajak kamu ke suatu tempat. Kebetulan besok hari Minggu.” Ujar Reyhan seraya tersenyum misterius. “Deg!Deg!” “Duh, lagi-lagi gue deg-degan. Masa cuman liat senyum dia doang gue jadi deg-degan gini sih.” Batin Karen seraya memegang dadanya. “Kamu kenapa, Karen?” Tanya Reyhan. “Ah! Ng..nggak apa-apa,kok. Ayo, kita pulang udah jam sembilan nih.” Kata Karen seraya melihat jam tangannya. “Ya, sudah. Kita pulang.” Kata Reyhan mengalah.

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Karen masih bingung dengan perasaannya. “Apa jangan-jangan gue...suka sama dia?” Batin Karen seraya melirik Reyhan yang sedang asyik menyetir. Reyhan sadar dirinya diperhatikan oleh Karen. “Kenapa sih ngeliatin aku terus? Ooh, kamu mulai suka ya sama aku?” Canda Reyhan. “A...apaan sih jangan geer deh!” Kata Karen gugup seraya memalingkan muka-takut muka merahnya terlihat Reyhan. Reyhan hanya tersenyum melihat Karen. Tak lama kemudian mobil Reyhan tiba di depan rumah Karen. “Karen, jam sepuluh besok aku jemput kamu, ya.” Ujar Reyhan saat Karen hendak turun dari mobilnya. “Hhh...jangan harap gue keluar, ya.” Ujar Karen dengan nada menyindir dan pergi. “Wajah merahnya tadi manis banget. Dia bener-bener cewek yang gue cari.” Gumam Reyhan seraya menjalankan mobilnya dan pergi.







Hari kedua....





“TIIIIINN...TIIIN...TIIIN..TIIIN..!!!” Terdengar bunyi klakson mobil Reyhan keesokan paginya. “Duh! Berisik banget, sih!” Gumam Karen yang baru bangun seraya menutup kedua telinganya dengan bantal. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu di kamarnya. “Karen, dari tadi di depan rumah kita berisik banget, seperti suara klakson mobil. Coba kamu liat.” Suruh Mama. “Males, ah Mah! Udah diemin aja tuh orang. Karen mau tidur!” Teriak Karen dari kamarnya. “Tapi, Sayang...” Mama tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena terdengar seseorang memencet bel rumah. “Iya sebentar...” Seru Mama seraya tergopoh-gopoh menuju pintu. Ketika Mama membuka pintu, Mama terkejut. “Re...Re...Reyhan- vokalis Storm Band itu kan?!” Seru Mama takjub sekaligus ngggak percaya. “Iya, Tante. Karen ada?” Tanya Reyhan sopan. “Karen lagi tidur tapi tadi sudah bangun kok. Tunggu sebentar Tante panggilkan. Mari silahkan masuk.” Kata Mama ramah seraya berlari menuju kamar Karen. “Lho, kok Ibunya Karen beda,ya? Sepuluh tahun yang lalu Ibunya Karen cantik kok sekarang....ah, bodo ah. Mungkin faktor usia.” Batin Reyhan. “Karen!Karen!” Panggil Mama seraya mengetuk keras pintu kamar Karen. Tak lama kemudian, pintu terbuka sedikit. “Ada apa sih, Ma? Bunyi klaksonnya udah berhenti, kan?” Ujar Karen seraya menguap. “Karen! Ada yang nyariin kamu! Itu artis beken, Reyhan!” Ujar Mama antusias. Seketika itu, mata Karen langsung membelalak kaget. “Re...Reyhan, Ma?” “Iya, Reyhan! Mama nggak mungkin salah. Dia sendiri juga mengakui kok.” “Tuh anak! Ngapain sih dia masuk-masuk rumah gue. Jadi, yang dari tadi berisik itu dia, ya. Kurang ajar.” Batin Karen kesal. “Bilang aja Karen lagi tidur, Mah.” Kata Karen seraya hendak menutup pintu kamarnya. “Eh, Karen! Jarang-jarang, lho artis se beken dia datang ke rumah kita. Ayo cepat mandi!” Suruh Mama. “Yah......tapi Ma....” “Nggak ada tapi-tapian. Kasihan kan dia udah susah payah datang ke rumah kita. Masak mau kamu tolak?” “Ya deh, iya....” Kata Karen akhirnya mengalah. Saat Karen keluar kamar, Mama terkejut melihat penampilan Karen. “Ya, ampun Sayang. Kamu kok dandanannya biasa banget sih?” Tanya Mama. “Ah, Mama. Cuman ketemu sama tuh orang aja. Sudahlah biarin aja.” Sergah Karen. “Masuk sebentar, deh.” Kata Mama seraya mendorong Karen masuk ke kamarnya. “Duh, Mama. Apaan sih.” Mama menyisir rambut Karen yang panjang setelah itu memberikan bando berbentuk bunga di kepalanya. “Nah, sudah jadi.” Kata Mama senang. “Ih, Mama! Apa-apaan sih? Kenapa Karen harus pake beginian sih?” “Udah, kamu nurut aja sama Mama. Masak mau kencan tapi dandanannya biasa banget kan nggak etis.” Ujar Mama seraya tersenyum. “A...apa, Mah? Ke...ke...kencan?” “Iya. Dia sendiri yang bilang sama Mama mau pergi ke suatu tempat. Wah, kamu beruntung banget, ya bisa kencan sama artis se keren dia.” Ujar Mama senang. “Ah, Mama...Karen males, Mah ketemu sama orang itu. Karen...” “Udah, cepet temuin dia. Kasian, dia udah lama nungguin kamu.” Kata Mama seraya mendorong Karen ke ruang tamu. “Heh! Ngapain lo kesini! Mau cari muka ya lo sama nyokap gue?” Kata Karen kasar. “Ah, akhirnya kamu...”Reyhan tidak sempat melanjutkan kata-katanya ketika melihat penampilan Karen. “Waaah....manis banget! Kayak waktu kecil dulu.” Batin Reyhan kagum. Karen yang merasa diliatin terus sama Reyhan merasa risih. “Hoy! Ngapain sih ngeliatin gue terus? Aneh, ya?Kalau aneh gue ganti...” “Ah! Jangan! Kamu...benar-benar cantik...” Kata Reyhan jujur. “Deg..deg..” Lagi-lagi, jantung Karen berdegup kencang lagi. “Duh, lagi-lagi begini.” Batin Karen. “Ya, sudah. Ayo kita berangkat.” Kata Reyhan semangat seraya menarik tangan Karen. “Eh!Tu...tunggu!!” Seru Karen. Mobil pun berjalan meninggalkan rumah Karen. “Baru pertama kali aku kencan dengan Karen. Wah, pasti asyik banget.” Kata Reyhan senang. “Heh! Inget, ya Reyhan! Jangan bawa gue ke tempat yang aneh lagi! Ngerti?!” Kata Karen dengan nada mengancam. “Tenang aja. Kali ini kamu pasti suka dan pastinya ingat aku lagi.” Kata Reyhan seraya tersenyum. Mobil Reyhan berhenti di suatu tempat- seperti tempat parkir. “Reyhan, kita mau kemana sih?” Tanya Karen seraya turun dari mobil. “Ayo, ikut aku.” Ajak Reyhan seraya menarik tangan Karen. “A....APAAAAA???!!!” Seru Karen sampai mulutnya menganga lebar beberapa menit. Karen melihat Reyhan dengan tatapan bingung dan nggak percaya. “Gimana?Gimana?Kamu ingat?” Tanya Reyhan antusias. “E..e..elo ngajak gue pagi-pagi jam sepuluh cuman untuk ngeliat sekolah TK? TK??!!TK YANG SEPI??!!OH, MG LO BENER-BENER GILA, REYHAN!!” Seru Karen dengan marah, sebal dan stress seraya menunjuk-nunjuk tempat itu. “Lho? Ini kan sekolah TK kita. Masak kamu lupa sih?” Ujar Reyhan bingung. “Heh! Asal lo tau, ya. Gue nggak pernah se...” “Liat!Liat! itu ayunan yang biasa kita pakai! Kita nggak pernah pinjemin ke teman-teman kita sampai mereka nangis. Hahahaha.... Sayang banget kita nggak bisa masuk.” Ujar Reyhan. “Heh! Lo boleh ber-nostalgila sama kenangan lo dan TK lo itu! Tapi, jangan ngajak gue dong!” Kata Karen ketus seraya membalikkan badannya dan melipat tangan kesal. Reyhan terkejut mendengar perkataan Karen. “Karen....apa dia terkena amnesia, ya?” Batin Reyhan. “Sudah, ah! Gue mau pulang! Bete gue bangun pagi hanya untuk pergi ke tempat nggak guna gitu!” Marah Karen seraya hendak pergi. Tapi, tiba-tiba Reyhan meraih tangan Karen. Reyhan menempelkan kedua tangannya di pundak Karen. Dipandangnya lekat-lekat gadis yang bersamanya itu. “Re...Reyhan...mau apa lo...” Kata Karen gugup. “Kamu....kamu....” “E...elo mau ngomong apa sih? Ngomong aja susah!” Kata Karen ketus seraya menyembunyikan rasa deg-degan nya. “Duh, apa dia mau nembak gue, ya? Duh, jangan sekarang dong...” Batin Karen galau. “Kamu.... pernah kecelakaan, ya? Apa kamu terkena amnesia?” Tanya Reyhan takut. Karen melongo mendengar pertanyaan Reyhan yang terlihat serius itu. “Kecelakaan? Heh! Kenapa lo berpikir gue pernah kecelakaan?” “Ya, abis. Kamu sampai nggak ingat sekolahmu sendiri. Ini kan TK kenangan kita, Karen.” Kata Reyhan. “Makanya, dari awal gue bilang sama lo gue bukan Karen yang elo cari! Ngerti?!” Seru Karen. “Nggak mungkin....Aku nggak mungkin salah...” Kata Reyhan bersikeras. “Terserah elo deh mau percaya atau nggak. Lo jangan nyesel,ya.” Kata Karen. “Apa boleh buat, ayo kita pergi.” Kata Reyhan seraya beranjak dari tempat tersebut. “Ki...kita mau kemana lagi? Kita mau pulang, kan?” Tanya Karen. “Enak aja. Ya nggaklah. Kita akan pergi ke taman bermain yang pasti kamu tahu.” Kata Reyhan dengan senyum misteriusnya yang khas. “Deg!Deg!” “Duh, berdegup lagi. Senyumnya......bagus banget....” Batin Karen. “Ayo cepat! Nanti keburu penuh.” Kata Reyhan seraya mengajak Karen masuk ke mobil. “Ta...taman bermain? Jangan bilang taman yang waktu itu? Nggak Reyhan, gue nggak mau.” Ujar Karen. “Bukan, bukan taman itu kok. Liat aja nanti.” Kata Reyhan. Saat mobil berjalan, Karen nggak henti-hentinya terlihat khawatir. Hatinya benar-benar berkecamuk. Sisi hati Karen mengatakan tidak ingin melepaskan Reyhan. Tapi, di sisi hatinya yang lain ia harus cepat terbebas dari Reyhan. Karen masih bingung dengan rasa deg-degan nya yang nggak berhenti saat di dekat Reyhan. “Karen...kamu terlihat pucat. Kamu nggak apa-apa?” Tanya Reyhan tiba-tiba. Karen hanya diam. Reyhan menghela nafas. “Karen, aku...benar-benar minta maaf selama ini sudah mengganggumu terus. Aku senang akhirnya aku menemukan cewek yang selama ini aku cari. Tapi....jujur, aku sedikit sedih juga saat aku tahu kamu sudah lupa sama aku. Tapi, aku yakin kamu pasti akan ingat aku lagi.” Ujar Reyhan panjang lebar. Karen tersentak mendengar pernyataan Reyhan. Degup jantungnya semakin terasa keras. Karen terdiam beberapa saat. “Karen...kamu masih marah ya karena aku sudah ganggu kamu?” “Hei....seandainya ternyata gue bukan Karen yang sebenarnya, karena yang sebenarnya muncul di depan lo, apa yang akan elo lakuin?” Tanya Karen tiba-tiba seraya menunduk. Reyhan seperti terkejut tapi dengan santai Reyhan menjawab. “Itu nggak akan mungkin terjadi. Karena aku yakin sama feeling aku.” Karen melihat Reyhan dengan kesal. “feeling?! Reyhan! Gue serius ngomong gitu, Reyhan!” Kata Karen nggak percaya dengan jawaban Reyhan. “Aku juga serius, Karen. Aku....nggak pernah main-main sama kamu. Karena tujuanku benar-benar untuk kembali pada teman kecilku.” Kata Reyhan tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Karen sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi. Sepanjang perjalanan mereka sama-sama diam- nggak ada yang berani bicara. “Akhirnya, sampai juga.” Kata Reyhan seraya menghentikan mobilnya di tempat parkir. “Ingat, ya Reyhan. Jangan ajak gue ke tempat aneh lagi!” Kata Karen. “Iya, aku tahu. Nah, ayo.” Kata Reyhan seraya menarik tangan Karen. Wah! Sungguh menakjubkan! Itu yang ada di pikiran Karen ketika tiba di pintu masuk taman bermain itu. “Wah....gue baru tahu kalau disini ada taman bermain sebagus ini.” Batin Karen kagum. “Ayo, kita kesana.” Ajak Reyhan seraya menarik tangan Karen semangat. “Re..Reyhan tunggu! Jangan tarik-tarik gini dong.” Kata Karen. “Gue yakin kali ini pasti Karen akan ingat.” Batin Reyhan. “Ayo, kita naik itu.” Ajak Reyhan seraya menunjuk roller coaster. “A...apa? na...naik itu? Reyhan, gue udah SMA kelas 2, ya. Mainan anak kecil kayak gitu udah nggak zaman.” Kata Karen terbata seraya menyembunyikan ketakutannya naik roller coaster. “Lho?memangnya kenapa? Tidak ada batas usia, kan?Aaa....kamu masih takut ya naik roller coaster? Aku masih ingat lho, waktu dulu kamu teriak-teriak naik ini...”Kata Reyhan tersenyum. “Oh, ternyata Karen yang asli juga takut naik roller coaster, ya.”Batin Karen. “E...enak aja! Gue berani, kok! Mainan anak SD beginian sih gampang!” Kata Karen seraya menyembunyikan ketakutannya. “Wah, sudah berubah, nih ceritanya. Oke, ayo kita ngantri!” Kata Reyhan seraya meraih tangan Karen. “Dasar Reyhan jelek! Pake ngejek gue lagi! Duh, gue bener-bener takut naik roller coaster. Gue mau pulang.” Batin Karen merinding seraya melihat roller coaster. “Ayo, kita naik.” Kata Reyhan saat telah tiba gilirannya. Dengan perasaan takut, Karen menaiki roller coaster. Karen tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Dari tadi Karen menutup matanya. Reyhan melihat ketakutan Karen. “Ternyata Karen cuma berlagak. Karen masih takut naik roller coaster.” Batin Reyhan. Reyhan memegang tangan Karen dan itu membuat Karen terkejut. “Re...Reyhan...” “Kamu ingat? Dulu kamu juga ketakutan begini. Lalu aku pegang tanganmu yang dingin itu. Ternyata masih nggak berubah, ya. Tanganmu masih dingin. Tenang, kamu pasti akan baik-baik saja. Kamu boleh teriak sekeras yang kamu mau.” Ujar Reyhan seraya tersenyum teduh. Karen benar-benar terpana. Tak lama kemudian, roller coaster berjalan. Karen menutup matanya rapat-rapat.

“Duuh pusing....” Kata Karen seraya berjalan sempoyongan setelah bermain roller coaster. “Wahahaha....kamu masih nggak berubah seperti dulu.” “Heh! Gue bener-bener pusing tau! Gue nggak akan pernah mau naik itu lagi!” Kata Karen sebal seraya menunjuk roller coaster. “Ya, sudah. Kita istirahat dulu, yuk.” Kata Reyhan seraya mengajak Karen duduk di bangku taman. “Tunggu sebentar, ya.”Kata Reyhan seraya berlari meninggalkan Karen. “Eh?! Kamu mau kemana?!” Seru Karen. “Aku mau beli minuman dulu. Nggak lama, kok.” Seru Reyhan dan berlari. “Huh! Dasar Reyhan bodoh! Duuh...pusing...” Gumam Karen seraya memegang kepalanya. “Kata-katanya tadi... membuat gue bener-bener tenang. Gue....gue....apa gue...” Pikiran Karen terhenti ketika tiba-tiba di depan wajahnya ada seseorang mengulurkan minuman. “Sorry, lama. Tadi ngantri sih.” Kata Reyhan seraya menyodorkan minuman. “Ma..makasih...” Ucap Karen seraya mengambil minuman itu dari tangan Reyhan. “Gimana Karen? Kamu udah baikan?” Tanya Reyhan. “I..iya..” “Wah, bagus deh.” Kata Reyhan senang. “Reyhan...” “Ya?” “Ternyata, lo eh kamu...orang yang baik, ya. Makasih, Reyhan.” Kata Karen seraya tersenyum. Melihat senyum Karen, seketika muka Reyhan menjadi merah. “Wah, baru pertama kali gue liat senyum Karen. Ternyata manis banget.” Batin Reyhan senang. “Akhirnya, kamu tersenyum juga...” “Eh?!” Karen tersentak. “Selama aku pergi denganmu kamu selalu marah-marah. Tapi, hari ini aku melihat senyum Karen. Aku senang banget.” Ujar Reyhan senang. “Baiklah kalau begitu! Aku nggak akan menyerah! Aku pasti bisa membuatmu ingat aku lagi! Maka dari itu Karen, aku mohon bantuanmu.” Kata Reyhan seraya beranjak dari bangku dan memandang Karen. Karen tidak bisa berkata apa-apa dan hanya terpaku melihat semangat Reyhan. “Ayo, kita pergi, Karen!” Ajak Reyhan seraya memegang tangan Karen. Mereka berjalan menyusuri banyaknya orang dan aneka stan permainan. “Nah, kita masuk kesini yuk.” Ajak Reyhan ketika berhenti di depan stand rumah hantu. “A...APAAA?! RU..RUMAH HANTU??!! NGGAK NGGAK GUE NGGAK MAU MASUK!! GUE TAKUT!” Seru Karen. “Lho? Waktu kecil bukannya kamu paling senang masuk rumah hantu?” Tanya Reyhan. “NGGAK! NGGAK!NGGAK!! POKOKNYA GUE NGGAK MAU MASUK KE TEMPAT MENGERIKAN ITU!!” Kata Karen tegas. “Tenang aja, kamu nggak akan diapa-apain kok. Ayo masuk.” Kata Reyhan cuek seraya menarik tangan Karen. Saat mereka masuk, suasana gelap langsung menyambut mereka. “Re...Reyhan...gue takut...Kenapa sih lo suka banget tempat-tempat kayak gini?” Ujar Karen ketakutan. “Bukannya ini stand kesukaanmu?” Kata Reyhan. “SAMA SEKALI BUKAN KESUKAAN....” “KROMPYAAAAAANNG!!” Tiba-tiba sebuah benda terjatuh sendiri. “WAAAAAAAAAAAAAA!!!” Teriak Karen seraya memeluk lengan Reyhan. “Tenang, Karen. Itu kan hanya orang stand yang ngerjain kita. Kamu sendiri yang bilang dulu waktu aku ketakutan.” Ujar Reyhan menenangkan Karen. “BODO! GUE NGGAK MAU TAU! POKOKNYA GUE MAU KELUAR DARI SINI!” Seru Karen seraya hendak pergi. “Tunggu! Kamu....jangan jauh-jauh dariku.” Kata Reyhan seraya meraih tangan Karen. Karen menurut. “Aku akan selalu menggandengmu. Jadi, jangan takut, ya. Kita akan cari jalan keluarnya.” Kata Reyhan serius. Karen terdiam. “Duh, gelap banget sih dimana ya jalan keluarnya?” Gumam Reyhan. “Aduuh, Reyhan. Cepetan dong temuin jalan keluarnya...”Kata Karen. “Iya, aku lagi cari.” Kata Reyhan. “Ah! Itu dia! Ayo Karen!” Seru Reyhan seraya mengajak Karen berlari menuju pintu keluar. Saat hampir sampai ke pintu keluar.... “Re...Reyhan...kayaknya...a...ada yang megang kaki gue...” Kata Karen terbata-bata ketakutan. “A..apa?!” “Reyhan....gue takut...” “Sentak kaki kamu kuat-kuat, Karen!” Karen segera menyentak kakinya kuat-kuat tapi nggak bisa. “Nggak bisa, Reyhan...Gue takut...” Kata Karen dengan nada memelas. “Duh, apaan sih yang nyangkut di kakimu. Untung gue bawa senter. WAAAAAA!!!” Seru Reyhan ketika melihat apa yang mengganggu kaki Karen. “Ke..kenapa, Reyhan?” “Lebih baik kamu jangan liat ke belakang.” “Emangnya kena....WAAAAAAAAAAAA!!HANTUUUUUUUUU!!!” Seru Karen terkejut ketika melihat sosok yang mengganggunya. “KAREN!” Seru Reyhan. “REYHAN! TOLONGIN GUE!!” Teriak Karen seraya memukul-mukul tangan ‘setan’ itu. Tiba-tiba, ‘setan’ itu melepaskan tangannya dari kaki Karen. Karen segera keluar disusul Reyhan. “Wah, benar-benar menegangkan! Karen?” Reyhan terkejut melihat wajah Karen banjir air mata. “Ka..Karen...maaf..aku...” “GUE BENCI SAMA LO!” Teriak Karen seraya berlari pergi meninggalkan Reyhan. “KAREN!KAREN,TUNGGU!!” Teriak Reyhan seraya mengejar Karen. “Ini semua salah gue! Coba gue nggak ngajak dia ke rumah hantu...sial...sial!!” Batin Reyhan galau. “Karen pergi kemana, ya? Karen...tolong maafin gue...” Batin Reyhan. Tiba-tiba, ia melihat seorang gadis yang tak lain Karen. “Karen!” Panggil Reyhan. Tapi, bukannya berhenti Karen malah lari. “Karen, maafin aku, Karen!” Seru Reyhan seraya berlari mengejar Karen. Reyhan berhasil menyusul Karen dan meraih tangan Karen. “Karen...” “Lepasin tangan gue!” Seru Karen seraya meronta. “Karen aku bener-bener minta maaf. Aku nggak tau kamu jadi takut sama rumah hantu.” Kata Reyhan. Karen berhenti meronta. “Ah, iya...Reyhan masih berpikir aku Karen yang dicarinya. Dia nggak tau gue paling takut sama hantu. Gue kan bukan Karen yang dicarinya. Wajar dia berpikir begitu.” Batin Karen. “Ya, sudah. Tidak apa-apa.” Kata Karen. Reyhan tersenyum cerah. “Makasih, Karen.” “Tapi tolong, Reyhan. Gue paling takut sama hantu. Jadi tolong jangan ajak gue ke tempat kayak gitu lagi.” Ujar Karen. “Iya. Aku janji.” Kata Reyhan seraya tersenyum.

Tak terasa hari mulai gelap. “Wah, sudah jam setengah tujuh. Ini saatnya.” Kata Reyhan. “Maksud lo?” “Liat aja nanti. Ayo.” Kata Reyhan misterius seraya menggandeng tangan Karen. Reyhan berhenti di depan kincir angin. “Ayo, kita naik ini. Aku ingin nunjukkin sesuatu buat kamu.” Kata Reyhan. Setelah membeli karcis, mereka masuk dan kincir mulai berjalan naik. “Elo mau nunjukkin apa sih?” Tanya Karen penasaran. “Kalau sudah sampai puncak kamu akan tahu.” Kata Reyhan masih misterius. Karen terdiam kesal. “Huh! Sok misterius!” Batin Karen. Saat tiba di puncak.... “Nah, sekarang coba kamu liat ke jendela.” Kata Reyhan. Karen menurut. “Waah.....” Karen melongo kagum melihat semua yang ada di bawahnya bersinar indah seperti bintang-bintang yang berkumpul di langit. “Gue....nggak pernah liat ini...sebelumnya.” “Hehehe..gimana bagus, kan? Dulu kamu paling suka naik kincir di malam hari. Kamu paling suka bintang, kan?” Ujar Reyhan seraya tersenyum senang. “I...ini...indah banget...hebat...” Kata Karen takjub seraya tersenyum seakan lupa ketakutannya tadi. “Karen yang asli juga suka bintang, ya. Duh, kok makin lama gue makin mirip aja sih sama Karen yang dia cari.” Batin Karen di sela-sela kekagumannya.

Setelah naik kincir angin, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. “Reyhan, udah puas kan? Kita pulang yuk. Udah malam, nih” Ajak Karen. “Tunggu lima menit lagi, deh.” “Emangnya kenapa? “Ada sesuatu yang paling menarik dari semuanya.” Ujar Reyhan. “Apa itu?” “Liat!” Seru Reyhan seraya menunjuk ke langit. “Waaah....” Karen terpana melihat kembang api berwarna-warni menghiasi langit. Karen terkagum-kagum selama lima belas menit sampai kembang api itu selesai. “ Setiap Sabtu dan Minggu taman bermain ini ada acara kembang api. Dulu, kamu juga terkagum-kagum begitu ngeliat kembang api. Bahkan pulangnya kamu sampai minta Mamamu membelikan kembang api.” Kata Reyhan tersenyum seraya melihat langit. Karen terdiam. “Oke, kita pulang.” Kata Reyhan seraya menggandeng tangan Karen. “A..aku bisa jalan sendiri. Nggak usah digandeng.” Kata Karen seraya melepaskan tangannya. Reyhan hanya tersenyum. “Gimana Karen? Kamu udah ingat kan?” Tanya Reyhan seraya menyetir. “Heh! Asal elo tau, ya. Gue baru tahu kalau disini ada taman bermain.” Kata Karen judes. “Hahaha...Karen, Karen. Jangan becanda, dong. Taman itu kan udah ada sejak dulu.” Kata Reyhan seraya tertawa. “Gue serius, Reyhan! Dan asal elo tau aja, gue sebenarnya bukan anak Bandung. Gue pindahan dari Jakarta Pusat.” Kata Karen tegas. Tiba-tiba, mobil berhenti mendadak. Reyhan memandang Karen-menatap mata Karen yang berkilat-kilat tajam saking seriusnya. “Gu...gue nggak bohong! Ma..makanya gue bilang dari awal elo udah SALAH ORANG!” Kata Karen jadi sedikit salah tingkah ditatap sedekat itu. Reyhan terdiam sesaat dan tak lama kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “Ke..kenapa elo ketawa? Aneh apa gue ngomong gini?” Kata Karen ketus. “Hahahaha...Karen, ternyata kamu licik juga, ya. Kamu ngomong gitu supaya kamu terbebas dari aku, kan? Dan kamu berpikir dengan kamu ngomong kayak gitu aku percaya dan aku nggak akan ganggu kamu lagi? Hahahahahaha...” Tawa Reyhan. Karen hanya melongo bingung melihat Reyhan. “Ih, dia punya otak nggak sih? Gue dibilang licik lagi. Dasar orang nggak waras.” Batin Karen seraya mendelik aneh melihat Reyhan. “Ah, iya! Besok kamu sekolah!” Seru Reyhan seraya menstarter mobilnya dan melesat pergi. “Elo....nggak sekolah? Gue denger elo juga masih sekolah, kan?” Tanya Karen. “Lho, kamu lupa, ya? Aku kan seumuran sama kamu.” Ujar Reyhan seraya asyik menyetir. “Lalu kenapa...” “Aku bolos sekolah. Seharusnya izin dari sekolahku cuma dua hari. Tapi, demi kamu aku...aku rela bolos sampai sebulan sekalipun, tapi...” “Ta..tapi apa?” Reyhan terdiam beberapa saat. “Ah, nggak apa-apa.” Sergah Reyhan.

Tak lama kemudian, mereka telah tiba di depan rumah Karen. “Ma...makasih, ya!” Ucap Karen terbata tapi judes. “Besok, aku jemput kamu, ya.” Ujar Reyhan. “Hhh, gue nggak akan pernah sudi nungguin elo.” Kata Karen ketus seraya membanting pintu mobil Reyhan. Mobil pun melesat meninggalkan Karen. Biasanya, Karen langsung masuk ke rumah, tapi kali ini Karen terpaku melihat mobil Reyhan dengan cepat menjauhinya. Angin malam saat itu menghembuskan rambut Karen dan ia merasa angin pun sepertinya mendukung suasana hatinya. Kini, ia tahu apa arti perasaannya selama ini. “Ternyata, gue mencintai Reyhan...” Batin Karen sedih seraya masuk ke rumah setelah ia memastikan mobil Reyhan benar-benar hilang dari pandangannya.





“Besok, hari terakhir, ya.” Gumam Reyhan begitu tiba di rumah neneknya dan berbaring di kamarnya. “Gue masih belum bisa membuat Karen ingat. Seandainya besok Karen masih lupa sama gue gimana, ya...” Gumam Reyhan lagi seraya melihat langit-langit kamar. ‘Dan asal elo tau aja! Gue sebenarnya bukan anak Bandung, gue pindahan dari Jakarta Pusat!’ Reyhan masih memikirkan kata-kata Karen tadi. “Apa...dia jujur, ya? Cara bicaranya emang nggak seperti orang Bandung.” Gumam Reyhan. Tapi, Reyhan segera membesarkan hatinya. “Ah, nggak mungkin! Wajahnya mirip seperti Karen yang dulu! Gue yakin gue nggak salah!” Gumam Reyhan mantap seraya mematikan lampu kamar dan tidur.

-bersambung-
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 5
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Finger Talks More :: Creative Writing :: Romance-
Navigasi: