Finger Talks More

Let your imagination take you up and your finger tell the story of it
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 4

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
armeychan

avatar

Jumlah posting : 6
Join date : 29.12.11
Age : 26
Lokasi : bandung

PostSubyek: LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 4   Thu Dec 29, 2011 2:01 pm

episode sebelumnya : Reyhan yang akhirnya berhasil bertemu dengan Karen mengajaknya pergi untuk membuat Karen ingat kembali. Pertama, karen pergi ke taman dekat rumahnya bersama Reyhan tapi sayangnya Karen dengan ketus bilang tidak ingat sama sekali dan emang nggak pernah bermain di taman itu. Reyhan yang pantang nyerah lalu mengajaknya ke rumah pohon dan hampir saja Karen celaka karena terpeleset. Dengan kesal Karen memintanya untuk memulangkannya dan esoknya Karen diajak lagi sama Reyhan ke taman yang kali ini dua kali lipat lebih 'aneh' dari taman deket rumahnya dan saat memasuki semak labirin, tiba-tiba Karen menghilang!







“Dasar bodoh, hahahaha....” Tawa Karen senang seraya berlari. “Yes!Akhirnya, gue bisa lepas dari cowok sialan itu. Dengan begini gue bisa pulang, dasar cowok bodoh, hahahahahha.....” Ujar Karen senang. Tapi, sudah hampir 2 jam Karen berputar-putar mencari jalan keluar dari labirin itu. Tapi, Karen masih belum bisa keluar. “Aduuh...kok jalan keluarnya nggak ada sih? Duh, banyak nyamuk lagi...” Kata Karen seraya menggaruk lengannya. Tak berapa lama kemudian, Karen jatuh terduduk kelelahan. “Aduh, gue udah nggak sanggup lagi... gue mau keluar....”Kata Karen lemas. Air mata Karen mulai mengalir di pipinya. “Reyhan, kamu dimana sih...maaf gue ninggalin lo...gue mau pulang...”Isak Karen seraya menutup wajahnya-kebiasaan Karen kalau menangis. Tiba-tiba, ada yang menepuk pundak Karen lembut. “Ternyata kamu disini? Kenapa kamu disini? Aku khawatir kamu tiba-tiba nggak ada.” Ujar seseorang. Karen berhenti menangis dan melihat wajah orang yang sangat dibencinya, Reyhan. “KAREN?! KENAPA KAMU NANGIS?!” Seru Reyhan terkejut melihat wajah Karen banjir air mata. “REYHAN?!” Seru Karen seraya memeluk Reyhan. “Gue takut, Reyhan...gue takut....” Isak Karen. “Wah, jarang-jarang gue dipeluk sama Karen. Gue senang banget!Yes!” Batin Reyhan. “Reyhan, gue mau pulang...gue mohon...gue sudah nggak kuat tadi nyari jalan keluar...” Isak Karen. “Oke, kita pulang saja. Lagian, udah sore seragam kamu juga jadi kotor.” Kata Reyhan. Reyhan membantu Karen berjalan karena Karen sudah nggak sanggup berjalan.

Di sepanjang perjalanan pulang, tak ada obrolan apapun-sepi. Karen masih meringis kesakitan karena digigit nyamuk. “Heh! Lo nggak denger, kan apa yang gue bilang waktu gue nangis?” Tanya Karen akhirnya bicara. “Emangnya, kamu ngomong apa? Oh, aku tahu. Kamu ngomong ‘aku cinta Reyhan’ gitu, kan?” Ujar Reyhan seraya senyum-senyum. “A..APA?! GUE...CI..CINTA SAMA LO?! Iiiiih....jangan kepedean deh!” Seru Karen kesal. “becanda,becanda.”Balas Reyhan tersenyum. “Bagus, deh. Si cowok bodoh ini nggak dengar.” Batin Karen. Tak lama kemudian, mobil Reyhan telah tiba di depan rumah Karen. “Mau kubantu jalan?” Tawar Reyhan seraya memegang lengan Karen. “Nggak usah! Lepasin!” Kata Karen jutek seraya hendak turun dari mobil. “Karen.....maaf, kalau selama ini aku selalu mengganggumu. Aku sudah berjanji sama diri aku kalau aku akan menemuimu. Ingat kan janji kita waktu kecil sebelum aku pindah?” Kata Reyhan serius. Karen terpana melihat keseriusan Reyhan. Baru pertama kali Karen melihat Reyhan seserius ini. “Aku maafkan....” Kata Karen seraya memalingkan muka dan turun dari mobil. “Ah, tunggu!” “Apa lagi sih?” “Besok, kita pergi ke tempat tadi,ya...” Kata Reyhan seraya tersenyum riang. “A..apa-apaan sih orang ini? Kenapa tiba-tiba moodnya langsung berubah?” Batin Karen seraya bergidik aneh. Karen langsung masuk ke dalam rumah. “Karen...dia semakin menarik. Semakin dia jutek sama gue, gue semakin tertarik.” Batin Reyhan senang seraya menjalankan mobilnya dan pergi.










Saat Reyhan tiba di rumah neneknya, Reyhan langsung disambut teman-temannya dan Ibu Lia. “Hoy,coy! Gimana kencan lo sama Karen? Pasti happy banget lo,ya...” Kata Ryan. “Yah...gitu deh...masih sama seperti kemarin, tapi.......” “Tapi, apa, Rey?” Tanya Rio. “Gue dapet hal bagus, guys.” Kata Reyhan tersenyum misterius. “Apaan?Apaan?” Tanya Rio. “Tadi gue....dipeluk sama Karen karena ketakutan gitu!” Ujar Reyhan senang. “Wah...kemajuan pesat nih. Eh, Reyhan kalo udah jadian sama tuh cewek, traktir-traktir, ye..” Ujar Ferdy gamblang. “Ah, elo! makaaaan mulu yang dipikirin, tapi nggak pernah gemuk-gemuk!” Ejek Rio. Mereka semua tertawa yang diejek pun ketawa terbahak-bahak kecuali Ibu Lia. “Kalian....mau sampai kapan kita disini...” Ujar Ibu Lia tiba-tiba. Mereka berhenti tertawa. “Ibu kenapa? Udah jelas, kan? Sampai Reyhan berhasil mengingatkan teman kecilnya.” Ujar Ryan. “Kalian sudah 2 hari bolos sekolah. Ibu nggak bisa membiarkan kalian ketinggalan pelajaran terus....” Kata Ibu Lia cemas. “Biarin, aja,Bu. Bosan sekolah terus. Sekali-kali kita kan happy-happy disini, Bu.” Kata Rio. “RIO!” Seru Ibu Lia. “Reyhan, Ibu ngerti kamu ingin sekali bertemu dengan teman yang sudah bertahun-tahun nggak ketemu. Tapi, kamu harus mengerti posisi Ibu sebagai manajer kalian.” Jelas Ibu Lia lembut tapi tegas. Reyhan terdiam mendengar perkataan Ibu Lia. “Bu! Kalau Ibu nggak bisa me-manage kita...Ibu nggak usah deh jadi manager kita lagi! Kita nggak butuh manager!” Marah Ryan. “RYAN!” “APA?! IBU MAU MARAHIN KITA?! KITA UDAH GEDE,BU. KITA NGGAK BUTUH TUKANG NGATUR....” “RYAN, HENTIKAN!” Potong Reyhan tiba-tiba. “Bu, saya mengerti. Tapi, saya mohon beri saya waktu 3 hari lagi. Jika dalam 3 hari saya masih nggak bisa membuat ingat Karen, kami akan pulang.” Kata Reyhan tegas. “Rey...Reyhan...” Kata Ryan terkejut. “Baiklah, Ibu kasih kamu waktu 3 hari.” Kata Ibu Lia singkat. Ryan, Rio, dan Ferdy beranjak dari ruang depan menuju kamar. Saat Reyhan hendak pergi, Ibu Lia bicara. “Reyhan, Ibu benar-benar minta maaf. Ibu nggak bermaksud menghalangimu. Ibu hanya nggak ingin kalian....” Reyhan membalikkan badan dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Ibu nggak salah,kok. Oh, iya tolong maafkan Ryan udah bicara kasar sama Ibu.” “I...iya...” “Saya mau ke kamar, ngantuk.” Pamit Reyhan. “Iya, makasih.” Kata Ibu Lia. “Sudah kuduga. Reyhan lebih dewasa daripada teman-temannya.” Batin Ibu Lia tersenyum.

“Hhhh....tiga hari, ya...waktu yang singkat.” Kata Reyhan seraya berbaring. “Gue harus bisa membuat Karen ingat gue lagi!” Kata Reyhan. Karena kelelahan ia tertidur.











Karen masih duduk terpaku di teras rumahnya. Pikirannya melayang saat-saat ia bersama Reyhan. “Sejak gue bersama Reyhan, gue ngerasa hidup gue jadi sedikit berubah. Biasanya, sehabis pulang sekolah gue langsung belajar. Tapi....tingkahnya itu lho, nyebelin banget! Kekanak-kanakan!” Batin Karen. “Karen, kenapa masih di luar?” Tanya Mama. “Nggak apa-apa kok, Ma.” Jawab Karen singkat. “Karen, kamu akhir-akhir ini pulang sore terus. Seragam kamu juga selalu kotor. Kamu pergi kemana, sih?” Tanya Mama. “Nggg...anu...ngg...akhir-akhir ini aku ikut ekskul olahraga jadi aku harus berkotor-kotor ria, deh.” Ujar Karen gugup. “Gawat! Kalo Mama sampai tahu gue jalan sama cowok, mana artis lagi. Bisa-bisa gue diledekin.” Batin Karen. “Tapi, tiap kamu berangkat dan pulang sekolah, Mama sering liat mobil biru di depan rumah kita, dia siapa Karen?” Tanya Mama penuh selidik. “Ah, gawat!!” Batin Karen. Karen terdiam. “Karen, sayang. Kamu udah punya pacar, ya.” Bisik Mama seraya tersenyum. “Ih, Mama, apaan sih.” “Wah, satu muka merah semua. Berarti tebakan Mama tepat dong.” Ujar Mama. “Ng..nggak kok. Mana mungkin ada cowok yang suka sama Karen.” Kata Karen seraya memalingkan muka. “Ya, deh Mama ngerti. Tapi, Karen tidur dulu, ya. Besok kamu sekolah, kan.” Kata Mama lembut. “Iya, Ma.” Kata Karen seraya beranjak dari kursi teras.

Saat di kamar dan membaringkan diri, Karen tetap nggak bisa melupakan Reyhan. “Duh...perasaan apa sih ini? Kenapa gue jadi kepikiran dia terus, ya? Apa ini yang namanya....Cinta?” Batin Karen. “Ah, sudahlah. Nggak usah dipikirin.... Masa gue suka sama cowok nyebelin dan bodoh kayak dia?!” Batin Karen seraya memejamkan matanya dan tertidur.













Hari pertama....



“Mah, aku berangkat!” Seru Karen seraya hendak keluar rumah. “Hati-hati!”Seru Mama dari dapur. “Hai, Karen...” Sapa Reyhan seraya tersenyum cerah. “Nga...ngapain lo disini?!” Seru Karen kaget. “Ya sudah jelas mau nganterin kamu, kan.” Ujar Reyhan. “Gue nggak butuh! Gue nggak mau diajak ke tempat aneh-aneh lagi sama elo! Gue...” “Cepat! Nanti kamu terlambat!” Seru Reyhan seraya melihat jam tangannya dan menyeret Karen masuk mobilnya. “Hei! Apa-apaan ini!” Seru Karen terkejut seraya meronta. Mobil berjalan cepat. “Reyhan! Lo mau mati, ya! Jangan ngebut-ngebut gini dong!!” Seru Karen histeris ketakutan seraya memegang pegangan mobil dengan kuat. “Kamu sudah terlambat, Karen! Aku nggak mau kamu terlambat.” Seru Reyhan tanpa mengalihkan pandangan seriusnya dari jalan. Karen terpana mendengar perkataan Reyhan. “Dia melakukan sejauh itu hanya buat gue? Buat gue yang bukan siapa-siapa dia?” Batin Karen nggak percaya. Karen terdiam beberapa saat dan bicara. “Heh, bodoh. Kenapa lo ngelakuin sejauh ini buat gue? Gue nggak mau lo nyesel makanya gue bilang sekali lagi sama lo, gue bukan Karen yang lo cari.” Ujar Karen seraya menunduk. Reyhan tidak menjawab dan terus saja menyetir. Merasa dikacangin sama Reyhan, Karen marah. “Reyhan! Elo denger nggak sih apa yang gue bilang?!” Setiba di depan sekolah Karen, Reyhan menghentikan mobilnya dan bicara dengan senyumnya yang khas. “Karena kamu orang yang paling penting dari yang lain. Aku mengerti kamu sudah melupakan aku karena sudah sepuluh tahun berlalu. Tapi aku nggak akan menyerah.” Tiba-tiba, jantung Karen merasa berdegup kencang. “Hah?! Kenapa jantung gue berdegup keras gini sih?!” Batin Karen. Karen segera turun dari mobil dan pergi. “Karen....” Batin Reyhan.

‘Mah, hari ini aku pulang malam karena ada latihan drama sekolah. Mama makan duluan saja.’ Karen mengetik sms untuk Mama. “Bagus, dengan begini gue bisa terbebas dari artis sialan itu! Tapi, untung aja temen-temen gue nggak ada yang tau kalau gue berurusan dengan Reyhan. Kalau iya, bisa gawat gue.” Batin Karen senang. “Karen, kamu kenapa sih dari tadi senyum-senyum aja? Aaaa....” Ujar Yumi seperti tahu apa yang dipikirkan Karen. “Ih, Yumi. Udah gue bilang, gue nggak punya pacar!” Seru Karen seraya menyembunyikan rasa malunya. “Ah, nggak mungkin. Kamu kan cantik banget bahkan terpilih jadi pemeran utama di drama sekolah kita.” Ujar Chika. “Chikaa....” “Karen! Giliranmu!” Panggil Azumi sebagai sutradara. “Karen, semangat, ya!” Seru Chika dan Yumi bersamaan. “Oke!” Seru Karen seraya tersenyum.

Tepat pukul setengah tujuh malam, Karen selesai latihan. “Duh, gue pulang malam.” Gumam Karen seraya belari keluar sekolah. “KAREN!” Panggil seseorang. Karen menghentikan langkahnya. “Nggak mungkin! Nggak mungkin dia..” Gumam Karen. “Karen, kenapa kamu baru pulang?” “RE....REYHAN?!” Seru Karen terkejut dan nggak percaya. “Ayo, kita pergi.” Ajak Reyhan seraya menarik tangan Karen. Tapi, Karen segera menyentak tangan Reyhan. “Dasar bodoh! Ini sudah malam! Gue nggak mau pergi ke tempat itu lagi! Gue ini cewek, bego!!” Seru Karen. “Aku akan bertanggung jawab! Aku...aku akan melindungimu, Karen!” Kata Reyhan. “Ah! Raut mukanya.....berubah....tidak seperti biasanya...” Batin Karen. “Aku mohon, Karen.” “Ya, sudahlah.” Kata Karen akhirnya mengalah. Reyhan tersenyum senang. Bahkan, ia membukakan pintu untuk Karen. Mobil pun berjalan. “Dia....nungguin gue sampai gue pulang?! Nggak bisa dipercaya. Sepertinya dia serius.” Batin Karen seraya melirik Reyhan. Deg!Deg! Jantung Karen berdetak keras lagi. “Perasaan apa ini?” Gumam Karen. “Re...Reyhan...” “Iya, sweet cat ? ada apa?” “Ingat, ya Reyhan! Elo akan nyesel saat elo tau kalo elo bener-bener SALAH ORANG!!” Ancam Karen. “ Aku yakin aku nggak salah.” Kata Reyhan santai. Karen terlihat kesal dengan jawaban Reyhan yang sekenanya itu. Tapi, ia berusaha sabar. “Reyhan, janji ya! Cuman sebentar!” Ujar Karen ketus. “Iya, sweet cat.” Kata Reyhan seraya tersenyum. “Udah gue bilang jangan panggil gue dengan nama an...” “Nah,kita sudah sampai!” Seru Reyhan senang. Begitu turun dan tiba di taman itu, Karen terpana. Taman itu lebih indah dari yang dilihat sebelumnya. Lampu taman yang menerangi setiap pohon membuat pohon-pohon itu terlihat bercahaya. “Ayo.” Ajak Reyhan seraya berjalan. Sepanjang perjalanan, Karen benar-benar terkagum-kagum dengan keindahan taman. “Menakjubkan! Indah banget! Ayah Reyhan pasti orang kaya.”Batin Karen. “Ini dia!” Seru Reyhan.

-bersambung-
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 4
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Finger Talks More :: Creative Writing :: Romance-
Navigasi: