Finger Talks More

Let your imagination take you up and your finger tell the story of it
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 3

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
armeychan

avatar

Jumlah posting : 6
Join date : 29.12.11
Age : 26
Lokasi : bandung

PostSubyek: LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 3   Thu Dec 29, 2011 1:59 pm

Cerita Sebelumnya : Setelah berhasil bertemu dengan Karen (yah, walaupun kesannya nggak enak sih) Reyhan ingin menemui Karen lagi di sekolahnya. Reyhan berhasil bertemu dengannya setelah pulang sekolah dan ia mengajak Karen ke taman dekat rumah Karen yang kata Reyhan itu adalah tempat ia dan Karen bermain sewaktu kecil. Tapi, Karen bilang tidak tahu dan hendak pergi. Tentu saja, Reyhan nggak nyerah. Ia mengajak Karen ke sebuah rumah pohon. Karen melongo dan tambah sebel sama Reyhan tapi karena ia mengambil tasnya, mau nggak mau Karen harus ikut naik ke rumah pohon. Tapi.....



“KAREN!!” Seru Reyhan seraya menggapai tangan Karen yang hampir jatuh. “AYO! AKU BANTU NAIK!” Seru Reyhan panik. Akhirnya, Karen sampai juga di atas dengan selamat. “Kamu nggak apa-apa, Karen?” Tanya Reyhan. Karen tidak menjawab dan hanya memalingkan muka. “Ayo masuk.” Ajak Reyhan. Ketika pintu dibuka.... “UHUUUK...UHUUUK...UHUUK... Reyhan, tempat kotor apa ini?!” Seru Karen sebal. “Sudah lama, ya nggak kesini. Sekarang kamu pasti ingat kan tempat ini?” Ujar Reyhan. “Gue nggak tahu!” Kata Karen tegas. “Ah! Tunggu sebentar.” Ujar Reyhan seraya menuju lemari kecil di sudut ruangan. Reyhan mengambil boneka beruang kumal dari lemari tersebut. “Coba liat! Ini hadiah dari kamu waktu aku ulang tahun. Kamu pasti ingat.” Ujar Reyhan senang seraya menunjukkan boneka tersebut. “Iiiiih....apaan sih! Udah gue bilang berapa kali kalau gue bukan.....” “Ah! Coba liat yang ini! Ini kapal-kapalan yang kita buat dari kulit jeruk bali, kamu inget kan?” Ujar Reyhan seraya mengambilnya dari rak. “Huh! Gue nggak tau!” Kata Karen ketus seraya memalingkan muka. “Hhh... ternyata susah juga, ya mengingatkan kenangan lama.” Keluh Reyhan. “Heh! Gue mau pulang!!” Kata Karen. “Ya, sudah untuk hari ini sampai disini dulu. Mau aku antar?” “Ga usah! Gue pulang sendiri aja!” Kata Karen ketus seraya keluar dan menuruni tangga. Reyhan melihatnya turun dengan tatapan sedih. “Karen.... padahal dari kecil gue benar-benar suka sama lo. Tapi, gue nggak akan nyerah! Dengan cara apapun, gue akan membuat lo inget lagi!” Batin Reyhan mantap.





“Karen....kenapa jam segini baru pulang? Ada tugas sekolah, ya?” Tanya Mama ketika Karen pulang. “Iya, Ma.” Jawab Karen singkat seraya masuk kamar. Karen merebahkan diri dengan kesal. “Huh! Sebel...sebel...sebel!! Dasar artis sialan! Ini semua gara-gara Chika, Yumi, dan Azumi yang ngajakin gue nonton konser itu!” Gumam Karen kesal. “AKU BENCI REYHAAAAN!! AKU BENCI ARTIIISS!!” Teriak Karen. Mama yang mendengar teriakkan Karen di dapur bingung. “Karen kenapa, ya...” Gumam Mama seraya beranjak. “Karen...makan dulu.” Panggil Mama di depan pintu. “Iya, Ma.” Sahut Karen. Mama beranjak menuju ruang makan. Tak lama kemudian, Karen keluar dan menyusul mama yang sudah dari tadi menunggunya. Karen langsung menyendokkan nasi ke piringnya banyak-banyak lalu makan dengan cepat. “Tumben kamu banyak makan, Karen. Jangan cepat-cepat begitu nanti tersedak.” Kata Mama seraya tersenyum. “Nggak apa-apa Ma. Aku laper.” Ujar Karen tanpa berhenti menyendokkan nasi ke mulutnya. Mama hanya terdiam melihat Karen berkali-kali menyendokkan nasi ke piringnya. “Karen....mama denger tadi kamu teriak-teriak. Mama baru tahu kalau kamu benci artis. Kenapa bisa begitu?” Kata Mama. Karen berhenti menyendokkan nasi ke mulutnya. “Nggak suka aja. Karena artis itu bisanya hanya cari muka aja.” Jawab Karen sekenanya seraya melanjutkan makan. “Oh, begitu.” Sahut Mama. “Ma, aku sudah selesai makan. Aku tidur dulu,ya.” Kata Karen. “Lho? Kan masih jam delapan?” Ujar Mama bingung. “Besok aku harus berangkat pagi. Ada tugas piket.” Ujar Karen. “Karen, tung...” Mama tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena Karen keburu pergi meninggalkannya. “Karen.... sejak Papa meninggal, aku merasa Karen jadi membenciku. Jangan benci Mama, Karen...” Batin Mama sedih.





“Ma! Aku berangkat dulu, ya!!” Seru Karen setelah sarapan. Saat Karen keluar, tiba-tiba di depan rumahnya Reyhan sedang berdiri di depan mobilnya. “Hai, Karen.” Sapa Reyhan. Karen telah bersiap-siap lari tapi dicegah Reyhan. “Tunggu!” Cegah Reyhan seraya meraih tangan Karen. “Duh! Ada apa lagi, sih? Gue mau sekolah! Udah telat nih!” Seru Karen kesal. “Ayo, aku antar.” Tawar Reyhan. “Gue nggak mau! Cepat lepasin tangan gue!” Seru Karen. “Aku nggak akan lepasin kamu sampai kamu mau aku antar.” Kata Reyhan seraya tersenyum. “Iya...iya....oke...oke!!” Kata Karen ketus dan sebal setengah mati. “Silahkan, sweet cat...” Kata Reyhan seraya membukakan pintu mobil. “Gue nggak mau di depan. Gue mau di belakang!” Kata Karen seraya membuka pintu belakang. Reyhan hanya tersenyum. “Yang penting gue bisa sama dia.” Batin Reyhan senang. Mobil mulai bergerak cepat. Selama di perjalanan, tidak ada pembicaraan-sepi. “Heh, Reyhan! Kenapa sih lo ganggu gue terus? Sampai kapan lo mau ganggu gue?” Tanya Karen ketus. “Sampai kamu inget aku lagi.” Jawab Reyhan seraya menyetir. “Tapi, asal lo tau aja, ya. Gue bukan Karen yang lo cari! Nama Karen kan nggak hanya gue aja.” Ujar Karen jutek. “Aku yakin aku nggak salah. Wajar sudah sepuluh tahun yang lalu. Tapi, aku akan berusaha.” Kata Reyhan. Karen terdiam. “Eh, turunin gue dong.” Kata Karen tiba-tiba. “Lho, kan belum sampai.” “Nggak usah banyak omong! Cepat turunin gue!” Kata Karen kesal. Reyhan segera menghentikan mobilnya. “Nanti aku jemput, ya sweet cat.” Ujar Reyhan. “UDAH GUE BILANG JANGAN PANGGIL GUE SWEET CAT!!” Seru Karen seraya membanting keras pintu mobil Reyhan. Mobil Reyhan telah melesat jauh meninggalkannya. “Dasar cowok keras kepala.” Batin Karen kesal seraya berjalan menuju sekolahnya.









“Hi, Reyhan! Gimana kencan dengan Karen nya?” Tanya Rio begitu Reyhan tiba di rumah neneknya. “Aah....bisa dibilang gagal. Karen masih jutek sama gue.” Keluh Reyhan. “Hoy, Reyhan....lo nggak boleh nyerah gitu dong. Lo suka dia kan?” Ujar Ferdy. “Ya, gue suka banget bahkan gue cinta banget sama dia tapi....” “Maka dari itu, Reyhan. Lo harus terus berusaha. Lo bisa menaklukan jutaan cewek masa naklukin cewek jutek kayak gitu aja nggak bisa. Ayo, dong Reyhan semangat!” Hibur Ryan. Reyhan terdiam. “Ayo, Reyhan! Lo pasti bisa!” Ujar Rio semangat. “Makasih, yo guys!” Kata Reyhan senang. Mereka mengangguk. “Ah! Jam berapa sekarang?!” Seru Reyhan tiba-tiba. “Jam satu lebih....” “Ah! Gawat! Aku harus jemput Karen!” Seru Reyhan seraya pergi dengan terburu-buru.

“Gawat! Keburu nggak, ya?” Gumam Reyhan galau. Saat hampir sampai, tiba-tiba ia melihat Karen berjalan sendirian di sisi kiri jalan. “Lho? Itu Karen!” Seru Reyhan. Reyhan segera menahan laju mobilnya dan berbalik menghampiri Karen. Reyhan membunyikan klaksonnya keras-keras. Ketika Karen melihat mobil yang meng-klaksonnya, ia terkejut, “Gawat! Artis sialan itu!” Batin Karen. Karen langsung berlari secepat mungkin. Tapi, tentu saja mobil lebih cepat dari Karen. Mobil itu menghalangi Karen hingga Karen terkejut dan hampir jatuh. “Karen, kenapa kamu lari? Kan aku udah bilang kalo aku akan jemput kamu, kenapa nggak nungguin aku?” Ujar Reyhan saat turun dari mobilnya. “Eh! Sorry aja ya, gue nggak sudi nungguin lo! Lo pasti ngajak gue ke tempat yang aneh-aneh. Minggir! Gue mau pulang.” Kata Karen ketus seraya berjalan melewati Reyhan. Tiba-tiba, Reyhan meraih tangan Karen dan menariknya dalam pelukannya. “Hei! A....apa-apaan ini! Lepasin gue!!” Seru Karen terkejut. “Karen...... aku...ingin bilang sesuatu sama kamu.....aku....suka sama kamu dari kecil....” Kata Reyhan terputus-putus. “Dasar bodoh! Lepasin gue!! Gue malu nih.....” Kata Karen mulai cemas. “Rasanya....aku ingin begini terus....” “Jangan bercanda, ya!” “Baiklah.....” Kata Reyhan seraya melepaskan Karen. Karen bersiap ingin lari tapi Reyhan dengan cepat meraih tangan Karen. “Ets! Tunggu dulu siapa bilang kamu boleh pulang... Ayo, kita jalan-jalan...” Ajak Reyhan seraya menggiring Karen masuk ke mobilnya. “Heh, Reyhan! Gue mau dibawa kemana lagi sih? Belum puas kemarin lo udah buat gue hampir patah tulang, hah?!” Seru Karen kesal. “Ada deh liat aja nanti. Pasti kamu senang.”Ujar Reyhan misterius.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di suatu tempat yang luar biasa indah. Setapak jalan dengan pohon-pohon yang daunnya berguguran. Di sisinya ada kolam yang jernih banget. “Waaah....indah ba....ups..” “Gimana, Karen? Tempat ini bagus banget kan? Ini taman bikinan Ayahku, dulu pohon-pohon ini kita yang menanamnya kamu ingat kan?” Ujar Reyhan. Karen masih terpaku takjub melihat taman yang indah itu. “Karen? Hoi, Karen?” Panggil Reyhan seraya mengguncang-guncang tubuh Karen. “I..ih, apaan sih....” “Gimana?Kamu sudah ingat aku?” “Huh! Taman apa ini? Cuman pohon sama kolam doang! Nggak menarik!! Udah ah gue mau pulang!” Kata Karen ketus seraya menyembunyikan kekagumannya. “Eh..tunggu dulu. Aku mau nunjukkin sesuatu yang pasti kamu ingat.” Ujar Reyhan seraya meraih tangan Karen yang hendak pergi. Mereka berjalan di sepanjang taman itu. Tak lama, Reyhan berhenti di depan sebuah tempat yang dipenuhi semak-semak yang ukurannya lebih tinggi dari tubuh manusia. “Kenapa kita berhenti di depan semak-semak kayak gini sih?Ngeri banget. Lo mau ngapain sih sebenarnya?” Ujar Karen gusar. “Lho? Ini kan labirin yang kita buat? Kamu sudah lupa, ya?”Tanya Reyhan bingung. “Gue nggak mau tahu. Gue nggak pernah kesini!” “Ayo, kita terobos semak ini, Karen.” Ujar Reyhan semangat. “A..A...A....APA?! TEROBOS SEMAK I...INI?! Jangan becanda, deh...” “Lho?Kenapa?” “Pasti di semak itu banyak nyamuknya, hiii....gue nggak mau...” “Aaah...mana Karen yang pemberani seperti dulu? Ayo!” Kata Reyhan seraya menarik tangan Karen untuk masuk. “Tu...tunggu, Reyhan!!” Terlambat, Karen sudah masuk ke semak-semak tinggi itu. “Iiih...ngeri banget sih...apa sih yang dipikirin Reyhan bawa gue ke tempat-tempat aneh kayak gini. Mana dia pegang tangan gue terus. Uh!risih! Pokoknya, gue harus keluar dari semak nyebelin ini!” Batin Karen. “Eh, jangan keenakan lo,ya! Lepasin tangan gue.” “Ah, sorry.” Kata Reyhan seraya melepas tangan Karen. “Sebentar lagi kita akan sam....KAREN?!” Seru Reyhan terkejut saat melihat Karen sudah tidak ada di belakangnya. “KAREN!!” Teriak Reyhan.

-bersambung-
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 3
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Finger Talks More :: Creative Writing :: Romance-
Navigasi: