Finger Talks More

Let your imagination take you up and your finger tell the story of it
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 2

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
armeychan

avatar

Jumlah posting : 6
Join date : 29.12.11
Age : 26
Lokasi : bandung

PostSubyek: LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 2   Thu Dec 29, 2011 1:57 pm

Cerita Sebelumnya : Setelah sepuluh tahu lamanya tidak bertemu dengan Karen, akhirnya Reyhan bisa bertemu dengan Karen- teman kecilnya di Bandung saat konser. Tapi, saat Reyhan akhirnya menemukannya dan bilang kalo ia temen kecilnya, Karen malah jutek dan bilang 'maaf, ya gue nggak pernah punya temen kayak lo." seraya berlalu pergi. Apakah Reyhan akan patah semangat?



“Mana boleh gue membiarkannya pergi dari gue lagi. Walaupun dia sudah lupa. Gue akan membuatnya ingat!” Batinnya. Ia segera menuju mobilnya dan pergi mengejar mobil Karen. “Oh, ternyata disini rumahnya. Masih sama seperti dulu.” Kata Reyhan saat ia melihat Karen turun dari mobil dan melambaikan tangan pada temannya. Saat mobil temannya sudah pergi, Reyhan buru-buru turun dari mobilnya dan menghampiri Karen. “Hai, Karen. Wah, ternyata rumahmu masih disini, ya.” Ujar Reyhan. “ELO?! Ngapain lo disini?! Kenapa lo ngikutin gue? Terus darimana lo tahu nama gue?” Ujar Karen kaget. “Itu tertulis di seragammu. Jadi aku yakin banget kalau kamu Karen, teman kecilku.” Ujar Reyhan tersenyum. “Heh! Denger, ya! Gue bukan Karen teman kecil lo! Lo tuh SALAH ORANG!! Udah, ah! Gue bete!!” Seru Karen ketus seraya hendak masuk ke rumah. “Tunggu!” Kata Reyhan seraya memegang tangan Karen. “Apaan lagi, sih?!” “Aku nggak akan menyerah supaya kamu ingat aku lagi . Besok aku akan datang lagi. Sampai besok, sweet cat.” Kata Reyhan. “HUH! JANGAN DATANG LAGI!!” Seru Karen seraya membanting pagar rumahnya. Reyhan masuk ke dalam mobilnya. “Akhirnya, gue bertemu dengannya, Karen. Yah....walaupun pertemuan pertama kesannya nggak enak. Tapi, gue nggak akan menyerah!” Gumamnya. Reyhan menyalakan mesin mobilnya dan melesat menuju mall. Setiba di mall, Reyhan terkejut karena di tempat parkiran teman-temannya dan Bu Lia sudah menunggu dengan tampang kesal. “Heh, Reyhan! Kemana aja lo! Kita nyariin lo sampai muter-muter mall ini tau nggak!” Marah Ryan. “Maaf, maaf.... tadi, gue ketemu Karen. Akhirnya, gue bertemu dengannya.” Ujar Reyhan. “APA?!” Seru mereka serempak. “Yang bener, lo?! Wah, hebat banget lo! Itu tandanya lo udah jodoh ama dia.” Ujar Ferdy. “Dimana lo ketemu dia?” Tanya Rio. “Tadi di konser diantara penonton. Dia ada di barisan paling depan.” Jawab Reyhan senang. “Hey, kalian..... siapa sih Karen itu? Ibu boleh tau, kan?” Tanya Ibu Lia yang sedari tadi diam. “Wah, Ibu ketinggalan zaman, nih. Karen itu cinta pertama Reyhan. Teman masa kecilnya gitu.” Jelas Ferdy gamblang. “Sssst! Ferdy!” Seru Reyhan. “Oh, gitu. Wah, romantis juga, ya. Teman masa kecil yang akhirnya bertemu.” Ujar Ibu Lia tersenyum. Reyhan hanya meringis mendengarnya. “Nah, sekarang ayo kita pulang. Besok kalian sekolah, kan?” Kata Ibu Lia. “Ya! Aku udah capek banget, nih.” Ujar Ryan. “Ya, aku juga.” Ujar Rio. “Gue nggak mau.” Kata Reyhan tiba-tiba. Mereka menoleh ke arah Reyhan. “Lho, kenapa?!” Tanya Ibu Lia. “Karen sudah lupa sama gue. Tadi, waktu gue ketemu dia, dia jutek abis. Dia bilang dia nggak pernah punya teman kayak gue. Jadi, gue akan tetap disini sampai gue bisa membuatnya ingat lagi.” Ujar Reyhan. Mereka terdiam. “Tapi, Reyhan. Besok kamu sekolah.”Kata Bu Lia. “Maafkan saya, Bu. Tapi, saya tetap disini untuk sementara. Kebetulan, disini ada nenek. Saya bisa menginap di rumah nenek. Kalau kalian mau pulang, nggak apa-apa,kok.” Ujar Reyhan tegas. “Kalau begitu gue juga nggak mau pulang.” Kata Ryan. “Gue juga!” “Gue juga!” Kata Ferdy dan Rio serempak. “Yah....apa boleh buat kalian memang selalu kompak kalau bolos. Lagipula, satu-satunya kendaraan kita cuman mobil Reyhan. Ya, sudah. Ayo, kita bantu Reyhan!” Ujar Bu Lia nyentrik. “Wah, sudah jam 6 sore!” Seru Rio ketika melihat jam tangannya. “Ayo, kita pergi ke rumah nenek gue. Kita akan menginap disana.” Ujar Reyhan. “Ta..tapi Reyhan. Bagaimana kalau merepotkan nenekmu?” Ujar Bu Lia khawatir. “Bu manager nggak perlu khawatir. Rumah nenek cukup besar,kok. Lagian, nenek tinggal sendirian setelah kakek meninggal. Sudah, deh nggak usah banyak omong. Ayo, ikut saja!” Kata Reyhan. Mobil Reyhan melesat menuju rumah neneknya. “Wah, rumah nenek lo gede amat!” Seru Ferdy ketika tiba di depan rumahnya. “Tok...tok..tok..” Ketuk Reyhan. “Nek...nenek!” Panggil Reyhan. Saat pintu terbuka, neneknya langsung memeluk Reyhan. “Reyhan cucuku...udah lama nggak kesini.” Kata Nenek Reyhan senang. “Nek, Reyhan bawa teman.” Kata Reyhan. “Selamat malam, Nek.” Ucap teman-teman Reyhan kompak. “Iya... ayo silahkan masuk.” Ajak Nenek Reyhan ramah. “Maaf, ya merepotkan.” Kata Bu Lia. “Ah....nggak apa-apa. Nenek selalu kesepian disini. Nenek senang Reyhan dan teman-temannya datang kesini.” Ujar Nenek tersenyum. Mereka masuk ke dalam rumah mewah itu. “ Wah, nenek lo orang baik,ya. Kasian sendirian, hihihi...” Bisik Ryan. Reyhan hanya diam. “Bik Nah!” Panggil Nenek. Tak lama, Bik Nah datang menghampiri nenek. “Ada apa, nyonya besar?” “Antarkan Reyhan dan teman-temannya ke kamarnya,ya.” “Baik,nyonya besar.” Kata Bik Nah sopan. “Ayo ikut saya.” Kata Bik Nah. Mereka mengikuti Bik Nah sampai mereka tiba di suatu tempat. “Disini tempatnya. Silahkan pilih kamar yang kalian inginkan.” Kata Bik Nah. “Wah, banyak banget kamarnya.”Gumam Ferdy. Mereka segera memasuki kamar masing-masing. Reyhan memasuki kamarnya dengan lemas. “Ahh...capek banget. Karen, kenapa elo udah lupa sama gue?” Kata Reyhan. Reyhan membaringkan dirinya di tempat tidur. Karena kelelahan Reyhan tertidur.



Pukul enam pagi, Reyhan terbangun. Reyhan teringat akan tujuannya. Reyhan langsung bergegas mandi. Setelah selesai, Reyhan berpakaian sekeren mungkin. “Dengan begini Karen pasti akan ingat.” Gumam Reyhan. “Teman-teman dan Bu Lia pasti belum bangun...” Gumam Reyhan lagi seraya mengambil kunci mobilnya. Ketika membuka pintu, Reyhan terkejut. “Hooy, Reyhan....kita-kita boleh ikut,kan?” Kata Rio tiba-tiba. “Kalian ngagetin aja sih. Kenapa kalian tiba-tiba ada di depan pintu?” Tanya Reyhan. “Kami dari tadi kok disini, ya kan teman-teman?” Kata Rio seraya meminta pendapat teman-temannya. “Bener banget, Rio. Tadi kita pengen ketuk pintu tapi kita-kita pikir lo masih tidur.” Tambah Ferdy. “Sekalian cari cewek baru. Cewek Bandung kan cantik-cantik.” Ujar Ryan senyum-senyum. “Kita-kita ikut lo, ya...” Kata Ryan. “Yah...boleh aja,sih. Lho, Bu Lia mana?” Ujar Reyhan. “Ibu Lia masih tidur katanya sih dia kecapekan.” Kata Rio. “Ya,sudah. Ayo cabut.” Kata Reyhan. Mobil pun melesat dengan cepat. “Eh, ngomong-ngomong kita mau kemana, Reyhan?” Tanya Ferdy. “Kita mau ke SMA Laboratorium UPI.” Kata Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya. “Kenapa kita kesana?” Tanya Ferdy. “Karena disana tempat Karen sekolah.” Ujar Reyhan. “Lo tau darimana kalau Karen sekolah disana?” Tanya Ryan. “Kemarin gue kan ketemu dia terus gue liat lambang sekolahnya. Gue udah lama tinggal di Bandung jadi gue tau.” Kata Reyhan. Sesampainya di SMA Laboratorium UPI, Reyhan menghentikan mobilnya. Mata Reyhan terpusat pada murid-murid yang berlalu lalang masuk ke sekolah tersebut. Tiba-tiba, Reyhan melihat Karen hendak masuk ke sekolah. “ITU DIA!” Seru Reyhan seraya hendak keluar dari mobilnya. “Tunggu!” Kata Ryan seraya mencegah Reyhan. “Lo kenapa sih? Gue pengen ketemu dia.” Kata Reyhan nggak sabar. “Liat dong situasi disana! Kalau lo tiba-tiba keluar, yang ada lo malah dikerubuti sama orang-orang. Sadar, dong Reyhan. Kita ini kan artis.” Jelas Ryan. “Bener banget. Lebih parahnya lagi, lo jadi nggak bisa ketemu Karen. Kita tunggu aja sampai pulang sekolah.” Tambah Rio. Reyhan berpikir sejenak. “Ya, sudahlah.” Kata Reyhan. Mereka menunggu lama sekali sampai mereka semua ketiduran. “Hei...hei...bangun! Liat! Udah pada pulang!” Seru Ferdy tiba-tiba. Mereka segera terbangun. Reyhan melihat murid-murid berhamburan keluar sekolah dengan serius. Tapi, yang ditunggu nggak juga datang sampai sekolah terlihat sepi. “Kok, Karen nggak keluar-keluar, ya?” Ujar Reyhan cemas. “Sabar, Han. Sebentar lagi pasti keluar. Nggak mungkin kan dia nginep di.....” “ITU DIA!!” Seru Reyhan seraya keluar dari mobilnya. “KAREN!” Panggil Reyhan. Karen menoleh. Ia terkejut dan hendak berlari tapi keburu dicegah sama Reyhan. “Ngapain sih lo ke sekolah gue? Belum puas, ya ganggu gue?!” Marah Karen ketus. “Ayo ikut aku.” Kata Reyhan seraya menarik tangan Karen. “Iiihh...apa-apaan, sih! Lepasin gue!!” Seru Karen. “Aku nggak akan melepaskanmu sampai kamu ingat aku.” Ujar Reyhan seraya tersenyum. Karen terpaksa masuk ke mobil Reyhan. “Oh, ini ya yang namanya Karen. Cantik juga.” Kata Ryan. “Hai, Karen...” Sapa Ferdy dan Rio. “HUH!” Seru Karen ketus seraya memalingkan muka. “Hei, kalian! Jangan ganggu Karen.” Kata Reyhan. “Heh! Denger, ya kalian semua terutama lo, Reyhan! Gue bukan Karen yang lo cari itu! Gue nggak kenal lo, Reyhan!!” Seru Karen. “Ah, kamu nggak usah sungkan sama aku. Walaupun sekarang aku artis, aku tetap Reyhan teman kecilmu.” Kata Reyhan tenang seraya menyetir. “SUDAH GUE BILANG GUE BUKAN KAREN TEMAN KECIL LO!! SEKARANG,TURUNIN GUE!! TURUNIN!!!” Seru Karen . Reyhan hanya diam seraya tersenyum senang. Karen akhirnya diam karena merasa sebal. “Hei, lo percaya nggak mereka pernah berteman dari kecil?” Bisik Rio. “Nggak, abis mereka nggak terlihat seperti teman kecil yang sudah lama nggak ketemu.” Bisik Ryan. Ferdy mengangguk setuju. “Heh! Gue mau dibawa kemana?” Tanya Karen. “Ke tempat yang pasti akan membuatmu ingat aku.” Ujar Reyhan. “Nah, kita sudah sampai.” Kata Reyhan seraya menghentikan mobilnya. “Kalian tunggu disini, ya.” Kata Reyhan. Mereka mengangguk. Karen dan Reyhan keluar dari mobil. Di depan mereka, terhampar padang rumput yang luas. “Kamu ingat? Waktu kecil, kita sering main disini. Main petak umpet, main pasir, main tangkap kupu-kupu terus....” “Gue nggak pernah main di tempat ini. Ini kan taman dekat rumah. Gue mau pulang!” Potong Karen ketus seraya hendak beranjak pergi. “Eh, tunggu! Kamu belum boleh pulang. Ada lagi yang ingin aku perlihatkan. Ayo!” Ujar Reyhan seraya menarik tangan Karen. “Uh!! udah puas,kan? Gue mau pulang!” Seru Karen. “Kalau tempat itu pasti kamu ingat deh.” Kata Reyhan. “Tempat aneh apa lagi sih? gue capek, nih!!” Ujar Karen ketus. Tapi, Reyhan tidak mempedulikan kata-kata Karen dan terus saja menggandeng tangan Karen seraya tersenyum. “Nah, kita sudah sampai.” Kata Reyhan.“HAH?! RUMAH POHON?! LO MAU APA SIH SEBENARNYA?” Marah Karen kesal. “Ayo naik.” Ajak Reyhan. “WHAT?! GUE HARUS MANJAT POHON?! GUE NGGAK MAU!!” Seru Karen ketus seraya melipat tangannya dan memalingkan muka. “Gampang kok. Kamu tinggal naik tangga ini saja,kan?” Ujar Reyhan tersenyum. “GUE TETAP NGGAK MAU!! BUANG-BUANG WAKTU AJA!! GUE MAU PULANG!!” Seru Karen seraya hendak pergi. Tiba-tiba, Reyhan mengambil tas yang tergantung di bahu kanan Karen. “EH! DASAR MALING LO! BALIKIN TAS GUE!!” Seru Karen seraya berusaha meraih tas itu. “Nggak mau. Sampai kamu mau naik ke rumah pohon itu, aku nggak akan kembaliin tas kamu.” Ujar Reyhan. Mendengar itu, Karen merasa kepalanya siap meledak. “Gimana, sweet cat?” Tanya Reyhan melihat Karen terdiam. “JANGAN PANGGIL GUE SWEET CAT!! EMANGNYA GUE KUCING APA?!” Seru Karen. “Atau tas ini nggak akan kukembalikan?” Goda Reyhan. “Oke! Oke! Gue naik!” Kata Karen ketus. Akhirnya, Karen dan Reyhan menaiki tangga gantung yang menjulang sampai rumah pohon itu. “Ayo, dong sweet cat.” Kata Reyhan yang sudah sampai lebih dulu. “UDAH GUE BILANG JANGAN PANGGIL..... AAAAAA!!!!”

-bersambung-
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 2
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Finger Talks More :: Creative Writing :: Romance-
Navigasi: