Finger Talks More

Let your imagination take you up and your finger tell the story of it
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 1

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
armeychan

avatar

Jumlah posting : 6
Join date : 29.12.11
Age : 26
Lokasi : bandung

PostSubyek: LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 1   Thu Dec 29, 2011 1:52 pm

Sepuluh tahun lalu...

“Reyhan!” Panggil seorang gadis kecil di depan rumah Reyhan. Anak laki-laki kecil itu segera keluar menghampirinya. “Eh, Karen.” Kata Reyhan seraya membuka pagar rumahnya. “Eh, main di taman, yuk.” Ajak Karen. “Ayo!” Sambut Reyhan. Mereka berdua berlarian dengan riang gembira layaknya anak SD kelas 2. Setelah tiba di taman, mereka bermain menangkap kupu-kupu, main pasir, dan main petak umpet dengan teman lainnya. Wah, seru sekali! “Reyhan, Karen! Kami pulang, ya! Udah sore! Besok kita main lagi, ya?!” Ujar salah satu dari mereka. “Ya! Sampai besok di sekolah!” Seru Karen ceria seraya melambaikan tangan. “Uh, kamu hebat, deh. Kamu selalu bisa tahu tempat aku sembunyi. Kenapa sih kamu bisa tahu?” Tanya Karen dalam perjalanan pulang. “Karena aku lebih pintar dari kamu.” Canda Reyhan. “Uuh! Iya, kamu memang pintar. Tapi, aku nggak akan kalah dari kamu!” Ujar Karen. “Karen...” “Ya?” “Besok, aku nggak bisa lagi main sama kalian...” Ujar Reyhan lirih begitu tiba di depan rumah Karen. “Kenapa?” Tanya Karen. “Karena besok aku harus pindah ke Jakarta sama Mama dan Papa.” Ujar Reyhan. “Yaaah....kalau kamu pindah aku main sama siapa?” Tanya Karen sedih. “Iya...aku juga nanti nggak tahu mau main sama siapa disana. Aku kan nggak kenal siapa-siapa disana.” Ujar Reyhan. Tiba-tiba terdengar suara Mama Reyhan memanggilnya. “Sudah, ya. Aku pulang dulu. Dah, Karen.” Ujar Reyhan seraya pergi. Karen masuk ke rumah dengan sedih. “Eh, Karen udah pulang. Mandi dulu, sana. Kotor begitu.” Suruh Mama. Karen menurut. Karen segera mengambil handuk dan mandi sendiri. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Karen bergabung dengan Mama yang sudah menunggunya di ruang makan. Mama mengambilkan nasi dan lauk untuk Karen. “Mama....” “Iya, sayang. Ada apa?” Tanya Mama. “Mah....bener, ya Reyhan mau pindah?” Tanya Karen. Mama seperti nggak percaya dengan kata-kata Karen. “Reyhan tetangga kita?” Tanya Mama. “Iya, tetangga kita. Reyhan bilang besok dia mau pindah ke Jakarta.” Kata Karen seraya menyendokkan nasi ke mulutnya. “Wah, Ibu Ratna nggak bilang ke Mama. Jadi, Mama baru tahu sekarang.” Ujar Mama. “Mah.....Kalau Reyhan pindah aku main sama siapa, Mah? Padahal, Reyhan itu sahabat aku.” Ujar Karen sedih. “Karen sayang.....Karen harus bisa berteman dengan siapa saja. Mama tahu, Reyhan memang teman yang baik bagimu. Tapi, berteman dengan teman lainnya juga baik. Karen ngerti, kan?” Ujar Mama seraya tersenyum. “Iya, Mah.” Ujar Karen polos. “Nah, sekarang Karen sikat gigi terus tidur. Udah ngerjain PR, kan?” Tanya Mama. “Udah, dong.” Ujar Karen. Karen segera ke kamar mandi untuk menyikat giginya dan tidur.



Hari Minggu pagi yang cerah telah datang . Karen terbangun dan menuju ruang makan. “Selamat pagi, putri Mama yang cantik.” Sapa Mama seraya memasak nasi goreng kesukaan Karen. “Wah, Mama masak nasi goreng! Asyik!!” Seru Karen riang. “Uh...tapi putri Mama yang cantik bau. Mandi dulu, ya.” Ujar Mama seraya menutup hidungnya lucu. Karen mengangguk senang. Selesai mandi dan rapi, Karen langsung duduk manis di ruang makan. “Nah, gitu, dong. Sekarang putri Mama benar-benar cantik. Nah, silahkan.” Ujar Mama masih bercanda. Karen makan dengan lahap. “TING TONG!” Tiba-tiba, terdengar bel. “Wah, siapa ya?” Gumam Mama. Mama segera beranjak dari dapur. “Eh, Ibu Ratna, Pak Gunadi, dan Reyhan. Ada apa? Mari silahkan masuk.” Ujar Mama ramah. “Oh, tidak usah, terima kasih. Kami hanya ingin pamit sama Ibu Leyla dan Karen. Kami mau pindah ke Jakarta.” Ujar Ibu Ratna. “Tante...Karen mana?” Tanya Reyhan. “Oh, sebentar Tante panggilkan. Karen!” “Iya, Mah!” Sahut Karen seraya menghampiri Mama. “Lho?Reyhan?” Kata Karen senang begitu melihatnya. “Karen, aku mau kasih ini.” Ujar Reyhan seraya memberikan gantungan kunci berbentuk boneka kaca berwarna bening, “Wah, bagus banget!” Seru Karen. “Itu kenang-kenangan dariku kalau kita pernah bersahabat. Kata Mama, suatu saat kita pasti bisa ketemu lagi.” Ujar Reyhan. “Makasih, ya.” Ucap Karen. “Kalau begitu kami permisi dulu.” Kata Ibu Ratna. “Oh, iya. Hati-hati di perjalanan. Semoga bisa betah tinggal di tempat baru.” Ujar Mama. “Iya, makasih. Sudah, ya Bu Leyla.”Ujar Pak Gunadi ramah. “Karen, semoga kita bisa ketemu lagi.”Ujar Reyhan. “Ya.” Jawab Karen singkat. Mereka pergi meninggalkan rumah Karen. “Sedih juga, ya...eh Karen! Kamu mau kemana?!” Seru Mama melihat Karen tiba-tiba keluar. Karen melihat mobil Reyhan belum jauh dari pandangannya. “REYHAN! KALAU KETEMU LAGI KITA MAIN LAGI, YA?!” Teriak Karen. Mendengar teriakan Karen, Reyhan melongokkan kepalanya. “IYA!” Teriak Reyhan seraya melambaikan tangannya. Karen menggenggam erat gantungan kunci yang diberikan Reyhan. “Karen, ayo masuk! Sarapan dulu.” Panggil Mama. “Iya, Mah!” Sahut Karen seraya masuk ke dalam rumah.











Sepuluh tahun kemudian...

“Hoy, Reyhan! Kita jadi latihan nge-band kan pulang sekolah nanti?” Tanya Ryan. “Pasti, dong! Besok kan kita mau konser di Bandung.” Ujar Reyhan. “Eh, ngomong-ngomong, di Bandung itu tempat cinta pertama lo tinggal, kan?” Ujar Rio. “Oh, Karen maksud lo? Iya, kebetulan banget kita konser disana jadi mungkin aja gue bisa ketemu sama dia. Mungkin, sekarang ini dia sudah SMA kayak gue.” Ujar Reyhan. “Hoy. Memang Karen itu kayak apa sih? Pasti cantik banget, ya. Wah, boleh nih.” Ujar Ferdy. Teman-temannya langsung menyoraki Ferdy. “Yah...gue nggak tau sekarang dia kayak apa. Dulu, dia berambut hitam panjang, wajahnya juga cantik dan lucu.” Kenang Reyhan. “KRING....KRING...KRING....!” Bel tanda masuk kelas berbunyi. “Yah, udah masuk, nih. Ya, sudah. Pulang sekolah latihan, ya.” Ujar Reyhan. “Ok, coy.”Sahut teman-temannya. Mereka berlarian menuju kelas masing-masing.



“KRING.....KRING....KRING!” Tak terasa, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Mereka langsung cabut ke studio band mereka. Setiba disana, mereka berlatih serius. “Wah, suara lo makin bagus aja, nih Reyhan.” Puji Rio ketika istirahat. “Iya, nih. Udah tampang oke banyak yang ngefans lagi. Wah, perfect banget lo.”Timpal Ryan. “Ah, sudah. Jangan muji gue kayak gitu. Kalian juga hebat, kok. Tanpa kalian gue juga nggak berarti apa-apa.” Ujar Reyhan merendah. “Akhir-akhir ini, Reyhan semangat berlatih. Jangan-jangan karena cewek itu. Hahahaha....” Canda Ferdy. “Cewek itu memang sangat berarti bagi gue. Gue seperti ini sebenarnya demi dia. Gue harus bertemu dengannya.” Ujar Reyhan serius. Mereka terdiam mendengar perkataan Reyhan. “Eh, ngomong-ngomong, konsernya besok, kan? Kita harus lebih keras berlatih! Jangan pada diam!” Seru Ferdy memecah keheningan. “Oh, iya! Kenapa kita jadi diam nggak jelas gini. Ayo, mulai!”Seru Ryan. Mereka segera ambil posisi dan mulai berlatih. Tidak terasa, hari telah malam. “Latihannya sampai disini dulu. Besok kita kumpul disini lagi sama manager jam sembilan pagi, oke?” Ujar Ryan sebelum pulang, “Iya, gue tau....” Kata Ferdy malas. “Hey, Reyhan, lo jadi bawa mobil, kan?” Tanya Rio. “Iya. Tenang aja.” Ujar Reyhan tersenyum. “Oke, guys. Sampai besok.” Ucap Reyhan seraya menghidupkan mesin motornya dan pergi. Sesampainya di rumah, Reyhan langsung menuju kamarnya dan tertidur. Ia sudah nggak sabar menunggu hari esok.



Tak terasa hari yang ditunggu-tunggu telah datang. Reyhan segera menghidupkan mesin mobilnya dan pergi. “Akhirnya, sebentar lagi gue akan bertemu dengan Karen. Tunggulah, Karen.” Batin Reyhan senyum-senyum seraya menyetir. “Hoy, lama banget lo!” Ujar Ryan saat mobil Reyhan tiba di depan studio. “Maaf.....abis jalanan macet banget. Bete banget.” Ujar Reyhan. “Oh, iya. Ngomong-ngomong udah izin ke sekolah, kan Bu Manager?” Tanya Rio. “Tenang aja. Masalah itu sudah beres.” Ujar Ibu Lia-manager mereka. “Buruan berangkat! Kalian harus sudah tiba di Bandung jam tiga sore, lho.” Ujar Ibu Lia terkejut saat ia melihat jam tangannya. Mereka langsung menaiki mobil Reyhan dan melesat pergi. Perjalanan Jakarta-Bandung yang menghabiskan waktu empat jam itu akhirnya terlewati. Mereka tiba di sebuah Mall besar. “Oh, jadi kita konser disini,ya.” Ujar Reyhan. “Ya..... Mall ini baru dibuka. Kita ditawari konser dalam rangka peresmian mall ini.” Jelas Bu Lia. “Ayo, cepat! Kita nggak punya waktu lagi! Sebentar lagi jam tiga!” Seru Bu Lia. Mereka segera masuk ke Mall. “Selamat siang, Bu Lia. Saya manajer Mall ini. Silakan ikuti saya.” Ujar Manajer itu. Mereka mengikutinya sampai tiba di sebuah ruangan. “Nanti, akan ada kru TV yang akan memanggil anda. Silakan tunggu disini.” Ujar Manajer itu seraya pergi. “Ayo, cepat! Kalian harus bersiap.” Ujar Bu Lia. Mereka segera mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari make up sampai latihan ulang untuk pencocokan. “Ayo! Saatnya kalian pentas.” Panggil kru TV. “Semoga berhasil, anak-anak.” Ujar Bu Lia tersenyum. “Ah, Bu Lia. Kami bukan anak-anak.” Sungut Ferdy sedikit kesal. “YA! DI PUNCAK ACARA INI SEBENTAR LAGI KITA AKAN MENYAKSIKAN BAND FAVORIT KITA!! STORM BAND!!!” Panggil MC acara tersebut. Begitu mereka naik panggung, terdengar gemuruh tepuk tangan dan teriakkan para fans. “Terimakasih semuanya!! BERNYANYILAH BERSAMA STORM BAND!!” Seru Reyhan. Penonton berteriak dan bertepuk tangan keras. Musik mulai terdengar. Saat Reyhan bernyanyi, teriakkan dan tepuk tangan penonton semakin keras. Ketika ia menyanyi seraya berjalan lebih dekat ke arah penonton, tiba-tiba mata Reyhan tertuju pada seorang gadis SMA yang sangat dikenalnya di barisan terdepan. “Karen?!” Seru Reyhan dalam hati ketika membaca nama di kemeja gadis itu. “Akhirnya!Gue bisa ketemu dengan Karen!!” Ujar Reyhan senang dalam hati. “TERIMAKASIH!TERIMAKASIH!!” Seru Reyhan ketika ia selesai menyanyikan beberapa buah lagu. Tepuk tangan penonton bergemuruh. “Bu Manager! Aku pergi sebentar!” Seru Reyhan terburu-buru. “Hey! Tunggu! Kau mau kemana?!” Seru Bu Lia. Pertanyaan Bu Lia tidak sempat dijawab karena Reyhan telah pergi. “Dimana? Dimana gadis tadi?” Batin Reyhan galau seraya berlari kesana kemari. Reyhan mencari-cari ke berbagai tempat, tapi tidak juga ketemu. “AH! ITU DIA!” Seru Reyhan saat tiba di parkiran mobil. Reyhan langsung berlari menghampirinya. “KAREN! AKHIRNYA AKU MENEMUKANMU!!” Seru Reyhan seraya memeluknya. Karen terkejut begitu juga dengan teman-temannya. “HAH?! ITU KAN REYHAN! VOKALIS STORM BAND!!” Seru Yumi teman Karen. “IIIH!! APAAN SIH! NGAPAIN LO PELUK-PELUK GUE!!” Seru Karen kesal. “Lho? Kamu lupa sama aku? Ini aku, Reyhan! Teman masa kecilmu!” Seru Reyhan senang. Karen dan teman-temannya saling berpandangan-bingung. “Maaf, gue nggak pernah punya teman masa kecil kayak lo. Elo salah orang.” Ujar Karen ketus seraya masuk ke mobil diikuti teman-temannya. Mobil kuning itu melesat pergi meninggalkannya.

bersambung
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
LOVE MEMORIES 1 Chapter Deep Memory episode 1
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Finger Talks More :: Creative Writing :: Romance-
Navigasi: