Finger Talks More

Let your imagination take you up and your finger tell the story of it
 
IndeksCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Yummy love, yummy my baby

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
maka ichiryuu

avatar

Jumlah posting : 20
Join date : 20.05.11
Age : 22
Lokasi : TANGERANG

PostSubyek: Yummy love, yummy my baby   Tue Jun 21, 2011 8:56 am

Chapter one: Pekerjaan pertama!




“Namaku… Sanada Ima. Sa – sa ,salam kenal, Motoyasu-sama.”

“Ya, salam kenal juga ya. Jangan terlalu kaku, ah. Langsung saja panggil Fredrick. Oke?”

“Baiklah… Umm, sebenarnya Fredrick-sama butuh bantuan apa? Oma pasti senang dengan permintaan Fredrick-sama.”

“Aduh… Tidak perlu pakai -sama. Fredrick. Mengerti, Ima-chan? Hehehe. Soal bantuan, yah.. Maaf karena sudah merepotkan keluargamu. Tapi karena aku sedang sibuk, aku butuh bantuan seseorang di rumah ini. Kau kan tahu, kalau keluargaku itu orang-orang sok sibuk semua..”

“Hmph, F.. Fredrick-kun bisa saja. Tapi maaf, bukankah keluarga Motoyasu pun memiliki koki pribadi?”

“Yah… Kalau itu hal yang kau bingung-kan, kau akan mengetahuinya nanti.. Harapanku sih, kau bisa membuat masakan luar. Apa kamu bisa melakukannya, Ima-chan?”

“Bi –bisa. Tapi aku tidak bisa membuat pizza..”

“Hahaha, tak perlu yang susah seperti itu. Pokoknya makanan sehari-hari saja. Nanti, kalau kau butuh bantuan, koki Matteo akan membantumu di dapur. Apa ada lagi yang mau kau tanyakan?”

“Tidak. Aku sudah mengerti, Fredrick-kun.”

“Baiklah.. Kalau begitu, kau bisa langsung ke dapur utama.. Sebentar lagi kan waktu makan siang. Aku mohon bantuannya ya..”
“Baik!”
.
.
Aku berjalan menuju tempat yang sudah diberitahu Fredrick-sama. Eh, maksudku Fredrick-kun. Ampun… Orang itu cepat akrab. Aku gugup menghadapinya. Soalnya dia kan ganteng sekali.. Dengan badannya yang tinggi itu, lalu rambut keemasan dan bola mata coklat terang, aku jadi gagap saat berbicara dengannya. Fyuuh.. Pekerjaanku kali ini akan berat. Tapi aku akan menghadapinya dengan semangat! Karena aku, Sanada Ima, seorang koki dan pattisier dari keluarga Sanada! Ayo Ima! Semangat!!
.
.
Woah… Mungkin itulah yang pantas diungkapkan untuk emm.. Dapur yang ada di hadapanku? Sepertinya aku salah masuk ruangan. Tapi kurasa tadi aku sudah benar membaca plang di depan pintu. Tulisannya betul-betul ‘Dapur Utama’. Apa ruangannya sedang direnovasi ya?
Kok dapurnya kayak hutan begini? Oke kujelaskan sedikit. Di depanku sekarang ini, ada ruangan yang besaaar sekali. Ruangan ini seperti tiga buah lapangan tenis yang dijadikan satu. Lalu… Ruangan ini dikelilingi oleh semacam kebun. Berbagai macam sayuran serta umbi-umbian ada disana. Dan, apa itu di sudut ruangan!? A.. Ada pohon apel? Sepertinya aku memang salah masuk ruangan.
.
.
“Hai. Kau pasti koki baru itu ya?” Aku sigap menengok dengan keterkejutan pasti. Di belakangku ada seorang koki. Well –walaupun penampilannya sama sekali tak cocok sebagai koki. Orang ini berbadan cukup besar. Kutaksir tingginya pasti lebih dari 170 senti. Rambutnya gondrong berantakan. Dan dia… memelihara janggut cukup tebal. Bajunya persis seperti baju koki. Jubah putih panjang dengan lengan baju yang terlipat. Di pinggangnya, beberapa peralatan koki terselip. Tapi yang paling tidak sinkron dengan pekerjaannya itu… Rokok! Ya, saat ini dia menghisap rokok. Astaga, memangnya apa ini? Komik wan pis? Koki dengan kebiasaan merokok. Sepertinya aku pernah membaca salah satu karakter seperti itu. Nanti apa lagi? Pemuda yang tubuhnya melar? Wanita tangan akrobatis? Hewan penyembuh?

“Hoi, hoi, sadarlah!” Koki baru itu mengagetkanku beserta suara berat selayaknya mesin.

“ –eh! I, iya! Maafkan saya. Saya benar-benar minta maaf.” Aku menundukkan kepala serta membungkukkan badan. Dasar Ima imajinatif. Aku bilang padanya aku terlalu kaget sampai melamun ketika diajak mengobrol. Koki itu tertawa renyah. Dia menyalamiku dan memperkenalkan diri. Namanya Matteo. Matteo Tanaka. Half-japanese dan half-italian. Dia ini pun sama kerasnya dalam pemanggilan nama seperti Fredrick-kun. Dia tak mau kupanggil dengan –sama, -san, atau bahkan –senpai.

Dia sempat bergelak sedikit soal namanya. Yang katanya aneh karena setengah jepang dan setengah itali. Dan koki Matteo tertawa kembali. Dia tak keberatan aku memanggilnya dengan nama kecilnya. Selama itu berarti tak ada nama paggilan ‘Tanaka’. Itu membuatnya risih, katanya.

Setelah perkenalan, dia mulai bercerita soal dapur ajaib keluarga Motoyasu. Menjadi koki dari keluarga yang bergelut di dunia makanan memang tidak mudah. Begitu kata koki Matteo. Tak sedikit persyaratan serta peraturan yang ada. Tapi kalau memang benar begitu, kenapa tidak memasak sendiri saja? Aku tanyakan itu padanya.
Dia sempat merenung sejenak saat aku melontarkan pertanyaan tadi. Lalu dia tersenyum simpul.

Seakan menyiratkan kalimat ‘ Yah, begitulah..’ Aku langsung mengerti, walau sedikit. Bagaimana kau bisa mengurusi dapur saat orang lain di luar sana ingin melihatmu tampil di balik layar kaca? Ya, ya, benar kata Fredrick-kun. Keluarga Motoyasu itu orang-orang sibuk semua. Kepala keluarganya memimpin perusahaan berbasis pada bisnis restoran kelas dunia. Istrinya sendiri adalah seorang koki sekaligus kritikus masakan terkemuka. Bahkan Fredrick adalah generasi selanjutnya yang akan memimpin perusahaan ayahnya. Tentu saja, dia pun mewarisi kemampuan memasak dari ibundanya.

Kabarnya, Fredrick-kun akan diberikan gelar ‘Numero Uno Rookie Chef’ pada tahun ini. Satu-satunya yang masih belum di ekspos ke publik hanya anak bungsu keluarga Motoyasu. Frans Motoyasu. Sehubungan umurnya masih duduk di bangku sekolah lanjutan pertama, keluarganya lebih mementingkan pendidikan dahulu. Sehingga nampaknya pers juga kesulitan mendapatkan informasi tentangnya.
.
.
Ah, tentu saja aku berbincang-bincang dengan koki Matteo sambil memasak. Memang kurang baik untuk melakukannya. Tapi aku harus mendekatkan diri dengan senior yang lebih dulu ada di tempat ini. Kami menyiapkan daging domba bakar, lalu salad, dan tak lupa saus pelengkap untuk dagingnya. Sedangkan untuk nasinya, koki Matteo menata nasi di penggulung khusus nasi yang kemudian dilapisi nori di atasnya. Lalu menggulungnya sehingga jadi seperti roll cake. Atau memang itu roll cake rasa pandan? Warnanya hijau muda.

Aku sendiri diminta membuatkan hidangan penutup. Sedikit pesan darinya, ‘Buat masakan Jepang yang tak berperisa Jepang’. Oke, apa maksudnya itu? Apakah aku harus membuat kue yang sama sekali tidak menggunakan bahan yang biasanya? Atau yang diinginkan adalah masakan luar yang dibuat mirip dengan masakan Jepang? Satu tips yang membingungkan.
.
.
Koki Matteo melirik pekerjaanku selesai pekerjaannya sendiri. Mukanya yang tenang sembari menghisap rokok itu lalu menjadi kaget. Aku harap aku tak akan dikeluarkan dari pekerjaan ini. Aku membutuhkannya. Dengan sabar aku menunggu komentar senior-ku itu.

“Semoga kau diberkati tuhan.-

Maaf? Apa itu maksudnya karirku tamat di sini?

-Pekerjaanmu luar biasa. Mata Fredrick memang mata elang yang tajam.” Tambah koki Matteo. Aku ternganga mendengarnya. Apakah ucapannya benar? Ya tuhan, kukira pekerjaanku sama sekali tak ada apa-apanya. Syukurlah kalau dia menyukainya. Sebetulnya aku hanya membuat penganan biasa. Namun, kalau dia menyukainya itu bagus.

“Sedikit banyak, kukira kau terpengaruh onigiri buatanku, eh? Hahaha.” Koki Matteo bertanya ceria. Aku mengangguk malu. Memang benar, sih. Setelah beliau membuat onigiri roll cake tadi, aku jadi membuat dango dengan diberi pewarna hijau. Biasanya dango akan ditusuk satu batang untuk tiga buah, tetapi kali ini aku menjejerkannya di piring kecil lonjong serta menghiasinya dengan olesan karamel cair. Tak lupa, aku taruh ice cream vanilla di sisi piringnya.

“Ya, kau sangat kreatif. Kuharap dia mau memakannya..” Koki perokok itu kembali berbicara. Aku sedikit bingung dengan ‘nya’ yang beliau maksud. Tapi berhubung ekspresi beliau lumayan mengkhawatirkan- antara sedih atau pasrah- akhirnya aku mengurungkan niat bertanya.

“Umm.. Koki Matteo, apakah koki di rumah ini hanya kita berdua?” Aku mencoba mencairkan suasana kelam di sekeliling koki perokok tersebut.

“Tentu saja tidak, setiap hari kau akan bertemu koki yang berbeda-beda. Aku ini koki hari Sabtu. Sedangkan untuk hari selanjutnya, lusa dan esoknya lagi, bukan aku yang memegang pisau di dapur ini…” jawabnya. Aku menatapnya terpana. Namun berusaha tetap fokus berhubung aku memegang sendok sayur untuk memasukkan saus ke dalam mangkuk besar.

“Kok.. Begitu?” Beberapa kata yang bisa mengungkapkan isi hatiku keluar juga.
“Seperti yang kukatakan tadi, standar Motoyasu… Mereka menolak menerima karya dari orang yang sama setiap saat.” Koki Matteo sedikit menatap aneh padaku. Pandangannya terasa seperti pasrah. Aku jadi bertanya-tanya sendiri.



Bersambung ke chapter dua~
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://ciqopunya.blogspot.com
 
Yummy love, yummy my baby
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Finger Talks More :: Creative Writing :: Romance-
Navigasi: